Jumat, 30 Desember 2011

Tulisan Islami di Pulau Tidung

"Di Losmen Lima Saudara ada banyak tempelan bernafaskan Islam seperti "Janji Saya tidak berzinah", "Ilmu Ikhlas," dll. Menurut saya ini yang paling menarik."

Cex aut? Apa itu? Pasti bingung kan? Hhee,, kata-kata antik ini gue dapet di pulau Tidung, suatu pulau yang terdapat di sebelah utara Jakarta, tepatnya di Kepulauan Seribu.

Ternyata walau namanya pulau Seribu, jumlahnya tidak mutlak ada seribu. Katanya ada bule yang ngitungin cuma ada 200 pulau, berarti pulau 200 yo..

Gue berangkat pada hari Senin, tanggal 26 desember 2011. Jadi kebeneran pas tanggal 26-27 tuh libur, berangkat dari apartemen Taman Rasuna sekitar pukul 04.40 bersama dua adek, ghozian dan Nadhifi dan Bapak-Ibu. Berangkat dari Rasuna naik taksi menuju Muara Angke.

Perjalanan naik taksi lumayan cepat juga, karena pagi-pagi orang jakarta masih pada bobo. Jadi tak ada tradisi macet seperti biasanya. Sekitar pukul 06.00 gue pun naik kapal menuju Pulau Tidung.

Di kapal, gue dan sekeluarga pilih tempat duduk yang di bawah. Karena di atas ada banyak orang, jadi lumayan juga dapet view bagus, pemandangan tapi ada kakinya juga. Kalau di bawah sepi, asek. Liat nih fotonya.


Pas perjalanan, kapal terombang-ambing seperti itu, ada banyak ombak. Yah karena gue ga cocok kerja di air, jadinya mabok deh. Beneran deh pusing banget nih kepala. Tadinya mau pesen McD katanya bisa pesen di mana saja. Tapi ga tau juga deh kalo gue bilang, “pesen ke tengah laut ya” gmana ngirimnya tuh.

Akhirnya setelah mabok dan terombang ambing di tengah laut, sampai juga di pulau tidung. Dapet losmen lima saudara, H. Halimah Hamid. Di losmen ini, menariknya ada banyak sekali tempelan-tempelan berbau Islam. Yang paling keren sih “I’m cex aut jam 8 pagi” Lucu amet yah cex aut, perasaan yang bener check out.


Pas gue tanya ke pa haji yang punya losmen, dia bilang, “Oh itu bahasa Inggris Prancis” hmm keren juga.
Tulisan lain yang menarik, “Janji saya tidak berzinah” trus ada juga “Lebih indah Shalat daripada dishalatkan”.





Di pulau tidung gue sekeluarga jalan-jalan ke pantai naik sepeda. Trus nyobain snorkling, lumayan gaya lah difoto. Padahal mah makenya juga ga bisa, hehe. Di pantai situ ada nama jembatan yang namanya “Jembatan Cinta”, pemandangannya oke juga neh.


Yang tak boleh terlewatkan di sini, Banana Boat. Jadi kita naik kapal yang kayak pisang gtu, pake pelampung trus pas di tengah-tengah laut dijatohin. Seru juga seh. Tapi gue malah pegangan terus ke banana boat nya jadi ga jatuh. Akhirnya disruh jatuh ya wes..

Pas makan malem ada warung makan yang ada tulisan wifi, tapi boongan doang, ga bisa dipake. Oh iya ternyata di sini Maicih ada banyak banget loh. Padahal di bandung juga jarang. Kalo kalian penggemar Maicih silakan kunjungi Pulau Tidung.

Nah akhirnya setelah puas jalan-jalan besok paginya pulang setelah tidung di pulau tidur, eh kebalik ya. Saatnya CEX AUT dari Pulau Tidung.

Karena Ibu sempet mabok pas berangkat, beli keresek 1 buat menahan muntah, hanya saja keresek itu mahal Rp 1000. Jadilah obrolan pagi itu seputar keresek.

Jadi pesan moral buat yang mau ke Pulau Tidung, jangan beli keresek, mahal. Hidup ini seperti keresek seperti murah padahal mahal.

Oh iya sebelum menunggu kapal, melihat-lihat sekitar. Ternyata pulau tidung itu ditemukan oleh orang Tarakan, Kalimantan Timur. Jadi mengikuti arah laut, ke Pulau Tidung.




Untunglah pas pulang air tenang tak ada ombak, jdinya ga mabok lagi. Tapi yaah, rame sekali jadi serasa pengungsian hehe..

Minggu, 25 Desember 2011

Pindah Ala Manusia Setengah Salmon




“Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.”

Kutipan tersebut terdapat dalam buku “Manusia Setengah Salmon”, buku terbaru karya penulis beken Raditya Dika. Masih dengan gaya komedinya yang khas, Raditya Dika membuat suatu tema yang bagus, perpindahan.

Yup, sebagai manusia memang kita harus berani pindah. Ambil contoh dari pemain bola. Apa jadinya jika seorang Cesc Fabregas tetap bertahan di Arsenal musim ini? Tentunya dia tak akan merasakan raihan 3 gelar bersama Barcelona musim ini. Atau seorang Jose Mourinho yang mau pindah ke Inter Milan lalu ke Real Madrid demi mencapai ambisi pribadinya.

Tanggal kalender hijriah atau kalender Islam juga menjadikan momen hijrah atau pindah sebagai pertanda awal tahun, yakni bulan Muharam. Saat itu Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat melakukan momen kepindahan dari Makkah menuju Madinah, meninggalkan kerabat yang dicintainya demi tegaknya syariat Islam.

Dalam bukunya, Raditya Dika mengibaratkan perpindahan itu dengan perjuangan seorang ikan salmon. Setiap tahunnya ikan salmon bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan. Banyak juga yang menjadi santapan beruang yang menunggu di darah dangkal. Namun salmon-salmon tetap pindah apa pun yang terjadi.

Sebentar lagi, kita akan mengalami momen perpindahan tahun, tahun 2011 ke tahun 2012. Setiap pergantian tahun memang rasanya kurang jika tidak mengenang kenangan di tahun 2011 ini.

Hmmm,, gue mau cerita mengenai tahun 2011 ini. Ternyata pada tahun ini gue mengalami berbagai momen perpindahan, sama dengan yang Raditya Dika ceritakan dalam bukunya. Pindah yang pertama yakni pindah pekerjaan.

Bulan Januari 2011, gue masih berstatus mahasiswa. Pas bulan itu gue berjuang memenuhi syarat-syarat skripsi, ikut sidang kompre dan akhirnya lulus. Tak terasa 4 setengah tahun masa kuliah terlewati dan gue menjadi pencari kerja.

Setelah ikut tes sana sini, gue akhirnya diterima di Harian Olahraga Ole. Ternyata umur gue di sini hanya 1 bulan, ada masalah dengan kantor ini karyawannya tidak digaji. Bulan Mei pun gue kembali pindah, ke vivanews.com, sebagai wartawan olahraga dan masih bertahan sampai sekarang.

Bukan cuma itu, penerbit buku gue juga ternyata harus pindah. Dari Hitam Putih Publisher, yang tiba-tiba menghilang gue pindah ke penerbit lain. Dua buku gue masukin ke Nulis Buku dan satu lagi di Leutika Prio. Masih berupa penerbit self publishing, jual online saja. Suatu saat nanti tentunya gue berharap bisa terbit di penerbit besar.

Tempat tinggal pun gue mengalami berbagai perpindahan di tahun 2011 ini. Rumah ortu Ujung Berung, Bandung, kosan di Ciputat Tangerang, rumah saudara di Rawamangun Jakarta, lalu pindah lagi ke kosan di daerah Karet, dan terakhir di Apartemen Taman Rasuna sampai sekarang ini.

Ternyata dalam tahun 2011 ini gue udah 5 kali pindah tempat tinggal. Tentunya dari semua tempat tinggal itu ada berbagai kenangan yang tercipta. Dari susahnya cari kosan di Ciputat sampai dapat yang murah Rp 300.000, sampai akhirnya sekarang bisa tinggal di apartemen yang bisa dikatakan jauhlah dari kosan hehe.

Kepindahan lain yang gue rasain tahun ini, yakni perpindahan alam. Ya, pada tahun ini kakek gue harus dipanggil Alloh SWT. Gue inget betul sebelum meninggal beliau sempat bilang, “Luzman mana Luzman?” dan nenekku di situ langsung bilang,”Luzman kerja,” Kakek lalu mengacungkan jempolnya dan tertidur. Tak lama kemudian beliau meninggal. Mungkin itu kenangan terakhir yang bisa gue kasih ke beliau.

Satu momen lain perpindahan yang gue rasain yakni perpindahan hati. Yah seperti yang Raditya tulis dalam bukunya, putus cinta sejatinya adalah sebuah kepindahan.

Ga tau kenapa gue ngerasa ini berat banget. Gimana nggak, gue emang baru jadian pas tahun 2010, tapi sudah mulai kenal dan sering sms sejak 2007. Gue udah anggap dia adek sendiri, sering curhat, bahkan dulu pas gue deket ama cewek curhatnya ke dia.

Gue inget bener, tahun 2007 pertama kali kenal dia lewat situs jejaring sosial, friendster. Gue tanya,” Eh kamu tulisannya sering dimuat di Soccer ya?” Dia jawab,” iya aku udah 3 kali,”

Dari situ muncul terus obrolan demi obrolan. Gue sering tertawa melihat tingkahnya, bahkan sering berantem karena perbedaan klub yang didukung Inter dan Milan. Gue rasa ini justru menjadi hal yang menarik, rasanya kalo berantem ama dia malah seneng banget.

Gue juga inget pertama kali ketemu bulan Oktober 2010 di Malang Town Square. Rasanya gue seperti mimpi akhirnya bisa ketemu dia, berjalan bersama mengililingi Matos. Dia memberikan gue kado spesial baju Inter dari seorang Milanisti. Gue juga inget dia sempat janji, “Kita udah melangkah sejauh ini. Aku akan berusaha pertahanin hubungan kita.”

Tapi entah kenapa tahun ini dia berubah. Mendadak jadi tidak suka bola, mendadak berhenti nulis. Bahkan sms gue pun dibalas singkat. Puncaknya dia bilang, “Tolong jauhi aku. Kita sangat berbeda. Jangan hubungi aku lagi,”

Hiks, gue juga ga ngerti kenapa semua harus berakhir seperti ini. Gue masih inget dulu sempat sekeluarga ke Malang dan bahkan bapak janji kalo sudah kerja boleh menikah. Kini semua itu sudah tinggal kenangan. Sepertinya faktor ketidaksetujuan ibu gue juga menjadi salah satu penyebab ini terjadi.

Gue hampir ga percaya ini bisa terjadi. Padahal, pas gue baru lulus dia masih telpon gue ngasih selamat. Pas gue ada masalah ama dosen, dia masih ngasih semangat. Pas gue sempet gagal sidang kompre dia masih beri semangat. Rasanya semuanya berlalu begitu cepat.

Beberapa bulan setelah lost contact dengan dia, gue menjalin hubungan dengan temen sekampus. Ibu gue langsung setuju, beda ama calon gue yang dulu. Hmm.. rasanya senang sekali, kalo ibu setuju mungkin semuanya lancar. Tapi takdir berkata lain, hubungan gue cuma berjalan 2 bulan. Sifat dia jauh dari yang gue harapkan.

Perlahan, tiba-tiba saja gue deket dengan seorang penulis. Tapi baru saja hubungan ini berjalan sebentar, ibu sudah bilang tak setuju. Rasanya memang berat berat sekali.

Apakah gue harus kembali pindah????
Tampaknya gue emang harus terus jadi manusia setengah salmon, persis dalam bukunya Raditya Dika.

Jumat, 16 Desember 2011

Buku Dreams 2 Reality

Alhamdulillah buku antologi ketigaku sudah terbit. Judul bukunya, "Dreams2Reality" yang berisi perjalanan panjang 2 tahun penerbit Leutika dimulai dari susah payah mengumpulkan orang, membuat ide, kuis-kuis kreatif, dan sampai sebesar sekarang.

Dalam buku ini diselipkan 10 pemenang Weekly Notes yang salah satunya merupakan tulisan saya yang berjudul  "Terus Mencetak Gol". Jadi dalam tulisan ini saya menganalogikan kehidupan dengan sepakbola, di mana kita harus memiliki goal (tujuan) dan berusaha keras agar tujuan itu tercapai. Kalo mau baca tulisannya bisa klik di sini.

Sebenarnya pemenang buku ini udah diumumkan Maret lalu, tapi akhinya baru bisa terbit bulan Oktober. Buku antologi ini buat saya jadi antologi ketiga setelah Gado-gado Cinta dan Writers4Indonesia #4. Kalo buku sendiri saya ada 3, Terjebak di Bawah Sadar, Terbebas dari Kegelapan, Sepakbola dan Dakwah Islam. Silakn klik gambar di kiri blog ini buat tahu lebih lanjut.

Oh iya buku Dreams to Reality ini diterbitkan Leutika Prio jadi hanya bisa dipesan online via website www.leutikaprio.com, atau bisa mesej FB leutika prio. Klik di sini. itu keterangan tentang bukunya, page depab leutika prio di sini, langsung mesej aja harga Rp 45.000.

Ini foto-foto buku Dreams2Reality




Jumat, 02 Desember 2011

Mieny Angel: Ingin Hidup dari Menulis

Tak banyak yang menjadikan menulis sebagai profesi atau sebuah pilihan hidup. Beberapa nama yang sudah dikenal dengan buku-buku hasil tulisannya di antaranya Raditya Dika, Andrea Hirata, dan Habiburrahman El Shirazy yang benar-benar bisa hidup dari menulis. Hal itulah yang kini sedang dirintis oleh Mieny Angel, gadis kelahiran Gunungkidul, 23 Februari 1989.

“Motivasi, menulis adalah bercerita. Curhatan mengurangi penat. Pengen juga hidup dengan menulis,” ujar gadis yang bernama asli Tri Darmini ini.

Saat ini Mieny sudah menerbitkan sekitar 20 buku antologi. Memang belum ada yang merupakan karya pribadi, namun tentunya hal tersebut patut diacungi jempol. Judul-judul buku antologinya ialah Gado-gado Cinta (Leutika Prio 2010, revisi 2011), Tiga Biru Segi (Hasfa Publishing, 2010), Be Strong Indonesia #sembilan (Nulis Buku, 2010), Dalam Estuari Sastra, Resolusi 2011 (Hasfa Publishing, 2011), Sahabat Terbaik Sepanjang Masa (Nulis Buku 2011), E-Love Story (Nulis Buku 2011), Tarian Tinta Laskar Pemimpi (Leutika Prio 2011), Dear Papa #3 (Nulis Buku 2011), Ibuku Adalah (Leutika Prio, 2011), Kulepaskan Kau dari Hatiku (Leutika Prio 2011), Curhat Cinta Colongan (Nulis Buku 2011), Sepucuk Surat Cinta untuk Rasulullah (Hasfa Publishing 2011), Wujudkan Mimpimu: Sebuah Episode Pengamen (Leutika Prio 2011), Surat Terakhir untuk Penghuni Mars (Nulis Buku 2011). Ia sudah mulai menulis buku sejak akhir 2010 lalu.


Saat ini Mieny tengah menggarap sebuah buku berdua dengan penulis lainnya. Tentang bukunya yang semuanya diterbitkan secara self publishing ia berujar, “Selama ini belum ke penerbit major. Karena aku masih baru. Cuma sudah sedikit tahu kriteria penerbit-penerbit. Bahkan sering ngobrol dengan editor-editornya.”

Walaupun buku-bukunya antologi, Mieny bisa mendapat penghasilan dari buku-bukunya tersebut. Ia juga mempromosikan semua bukunya yang “segudang” itu.

“Cara promo jejaring sosial internet yang melebar. Pintar-pintar aja ngobrol. Tapi kalau aku ngasih liat apa adanya. Gak pernah nutupi. Ini kurang ini kurang itu,” katanya membuka resep promonya.

Prinsip yang bagus. Dalam mempromosikan buku, kita tak boleh menutup diri dan harus senantiasa terbuka dalam menerima saran. Apalagi bagi kita yang tergolong penulis baru tentunya masih membutuhkan banyak kritik dan saran agar karya kita bisa semakin berkualitas.

Mieny sudah menekuni dunia tulis menulis sejak menduduki bangku SMP. Ia rajin mengirimkan karyanya ke berbagai lomba seperti karya ilmiah tingkat kabupaten dan dinas. Diakuinya, saat itu ia belum serius menulis. Ia mulai serius menulis akhir 2010 dan sejak itu ia aktif mengikuti berbagai lomba yang diadakan self publishing sampai tulisannya muncul dalam 20 buku.

Karyanya kebanyakan ber-genre fiksi, namun ia pun senang menulis nonfiksi. “Lebih cenderung ke fiksi tapi tidak menutup kemungkinan ke nonfiksi toh semua sudah pernah kucoba. Cuma biasanya nulisnya diangkat dari true story,” katanya.

Walaupun ia sudah menghasilkan banyak karya ia masih enggan disebut penulis. Ia juga merasa masih banyak impiannya yang belum tercapai. “Haha, saia bukan org penting. Dikatakan penulis jg blum. Bekerja? Tidak, saya tidak kerja. Lebih tepatny baru keluar dari mbabu dan sekarang blum ad aktifitas yg oke lg. Pengenny sich kuliah, wuih Amin,” curhat Mieny.

Hmmm.. sebenarnya kan Mieny udah kerja ya. Kerjanya yah sebagai penulis. Hhe.. Ya semoga saja impiannya yang ingin hidup dari menulis bisa tercapai. Jangan lupa traktirannya buat saya yah.

Aktivitas menulis lain Mieny ia curahkan di blognya di http://tridarmini.blogspot.com/. Ia mengaku masih baru di dunia blog. “Dalam dunia blog, boleh dibilang newbie. Tadiny cuma iseng aja mencoba bnyk fasilitas internet. Eh tauny kenal sana sini jadi tambah ilmu, jadilah pngn nyoba kayak master2 yg dah puny nama. Kenal master ini itu. Kenal pnulis ini itu. Ya tinggal kembangin ajah,” katanya. Selain di blog ia juga menjadi member #NBCJogja (http://nbcjogja.wordpress.com), dan juga ikut turut andil di www.menulisyuk.com.

Terakhir, Mieny punya saran nih buat temen-temen yang lagi semangat-semangatnya menulis.

“Bekarya itu dari hati, kuncinya cinta. Dan berusaha disiplin (baru saia coba), terus membuka diri aja. Jangan mati karena kritik tapi jangan pula gak mau dikritik,” katanya.

Yuk ah semakin semangat menulis. Tetap terbuka terhadap kritik, dan jangan patah arang dalam menulis. Siapa tahu bisa seperti Mieny yang sukses menulis dan juga bisa hidup dari menulis.

Oh iya buat yang ngefans ama Mieny siap2 patah hati ya, soalnya ternyata doi udah punya cowok. cowoknya penulis blog ini, hehe.. Walau belum pernah ketemu tapi yah jalani aja dulu, namannya jodoh nggak akan ke mana yah to? :D

Rabu, 09 November 2011

Cerita dari Dalam Lift

"Kantorku di lantai 31, apartemen lantai 29. Praktis harus selalu menggunakan lift."
Saat ini lift sudah menjadi makanan sehari-hari bagiku. Dari kantor di lantai 31 menuju apartemen lantai 29. Wuih sebagian hidupku sekarang berada di ketinggian. Belum lagi rumah Ujung Berung ada di atas gunung. Tapi ini di lantai tinggi, bukan di gunung.

Pengalaman naik lift tinggi pertama yakni saat wawancara di vivanews.com. Waktu itu aku menyangka lantai 3, ternyata lantai 31. Wow pertama kali seumur hidup di lantai setinggi itu (lebay.com). Di kantor itu ternyata agak ribet juga. Jadi perlu memakai akses kalau mau ke atas. Akses itu baru aku dapat 3 bulan setelah kerja, jadi kalau tak ada akses perlu memanggil orang dari atas.

Pengalaman naik lift di kantor, kalau pagi-pagi banyak banget yang naik lift. Padahal di kantor tuh lift dibagi dua bagian. Satu bagian ada 8 lift, tapi tetap penuh. Jadi lama deh, satu-satu sampai lantai 31. Hehe.
Tapi kalo piket malam sekitar jam 10 malam, lancar jaya. Langsung ga kerasa tiba-tiba ada di lantai 31 aja.
Nah kalo di apartemen beda lagi. Akses hanya perlu untuk masuk, di lift dan kamar tak perlu pakai akses. Pengalaman naik lift di apartemen, seru juga.

Di apartemen, lift ada 3. Dua buat orang, satu buat servis termasuk sampah. Pernah lihat ada orang bule masuk lift servis, ternyata dia bareng yang bawa sampah. Dia sambil tutup hidung gitu langsung keluar, kocak abis. Trus pernah juga ada orang negro trus ada bayi. Bayinya ketakutan liat orang negro. Hihi..

Nah yang tegang tuh kalo cuma berdua di lift. Apalagi kan banyak bule gitu di apartemen. Di mana-mana bule. Pernah dong berdua sama cewek seksi gitu. Tegang banget kan.

Pernah juga pas mau masuk lift sekitar jam 3 pagi, waktu itu ngejar mcdonald delivery. Ternyata di dalem lift ada bencong. Serem bener. Ya udah ga jadi naiknya, ogah berduaan ama bencong. Hehe..

Ya begitulah sekilas pengalaman aku di lift. Seru-seru dan kocak juga. Hikmahnya di lantai atas, jendela ga perlu dikunci, soalnya ga mungkin ada maling manjat lantai setinggi itu. Yah kecuali kalo malingnya spiderman atau superman.

Minggu, 06 November 2011

Belajar Ikhlas di Idul Adha

“Semua yang kita miliki di dunia ini milik Alloh. Kita harus sabar dan ikhlas jika sewaktu-waktu Alloh mengambilnya.”

Itulah secuplik ceramah Idul Adha yang aku dengar hari ini di Masjid Al-Bakrie Epicentrum, Minggu 6 November 2011. “Ikhlas”, suatu kata yang rasanya mudah diucapkan namun rasanya sulit untuk direalisasikan. Rasanya minggu-minggu ini aku benar-benar belajar mengenai kata ikhlas itu.

Minggu-minggu ini memang rasanya seperti shock therapy bagiku. Aku begitu mudah kehilangan. Mungkin aku memang kurang berkonsentrasi atau memang ceroboh. Hmm.. entahlah..

Kehilangan pertamaku, sebuah alat cukur. Waktu itu aku membawa alat cukur ke minimarket dekat apartemen. Aku ingin membeli isinya. Petugas minimarket itu ternyata tak tahu mana isi yang cocok. Aku keluar sebentar untuk ke laundry, dan menyimpan alat cukur di saku. Sampai apartemen, kurogoh sakuku, alat cukur itu sudah tak ada.

Kehilangan kedua, di kantorku Menara Standard Chartered Lantai 31. Saat itu aku shalat ashar. Aku biasa mengalungkan akses kantor dan kunci apartemen di leher. Saat shalat karena agak ‘kagok’ kulepas kalung akses dan kunci itu. Namun ternyata aku lupa kembali membawanya setelah shalat.

Aku baru tersadar akses dan kunci itu hilang saat hendak ke bawah, karena memang harus menggunakan akses. Kurogoh saku, tak ada. Benar-benar kaget saat itu. Bagaimana aku bisa masuk apartemen, sedangkan bapakku sedang ke Bandung. Apalagi untuk mendapatkan akses kantor begitu sulit dan lama. Untuk ke atas jelas sulit kalau tak ada akses. Benar-benar keringat dingin saat itu, apalagi saat dicek ke mushola sudah tak ada.

Tapi alhamdulillah, saat itu ternyata akses dan kunci sudah diamankan satpam. Yah, aku masih bisa bernapas lega saat itu.

Kehilangan ketiga ini benar-benar mengejutkanku. Saat itu aku liputan timnas U-23 di Stadion Soemantri Brodjonegoro. Ternyata aku lupa mengunci tasku. Saat aku dekat apartemen, aku tersadar, dompetku tertinggal. Dan di dalam dompet itu ada modem, akses apartemen, dan KTP.

Aku segera kembali ke stadion. Di situ aku bertemu 3 orang yang mengaku bertemu dengan orang yang menemukan dompetku. Aku sedikit tenang setidaknya ada orang yang sudah menemukan. Aku mencatat nomer orang tersebut. Katanya orang yang menemukan dompet itu akan datang lagi jumat.

Jumat, 4 November 2011, suatu firasat ada di kepalaku saat itu. Kenapa yah sepertinya akhir-akhir ini aku begitu “sial”. Apa ada yang salah denganku? Dan hari itu aku terpaksa tak shalat Jumat, karena harus segera ke bandara liputan obor SEA Games. Dengan alasan musafir, rasanya bisa disatukan dengan shalat ashar nanti.

Sepulang dari bandara, aku langsung shalat ashar di masjid Al Bina senayan, sekalian dijamak dengan shalat dzuhur. Belum hilang rasa keterkejutanku atas hilangnya beberapa barangku, ada lagi kejadian di Kopaja P19.

Dari Senayan, Kopaja lumayan penuh. Aku tak kebagian tempat duduk dan terpaksa berdiri. Hp yang sudah lowbet aku pegang sebentar, kumatikan dan disimpan di saku.

Entah mengapa, di daerah Benhil tiba-tiba saja penumpang jadi sepi. Padahal sepanjang pengalamanku, kebanyakan penumpang turun di daerah Karet. Dan belum rasa heran itu hilang, dari belakang ada seorang bapak-bapak menarik kakiku dan memakai korek hendak menyalakan korek itu. Jelas aku panik, dia seperti hendak membakar celanaku. Saat itu ada seseorang yang bilang, “duduk depan kosong tuh”

Saat itu yang kupikirkan hanya keselamatanku sebab seram juga tiba-tiba ada yang mau membakar kakiku begitu. Wajahnya juga seram. Saat duduk kurogoh saku, hp blackberry sudah tak ada. Aku langsung teriak saat itu, “Ke mana hp ku ke mana” (eh kok kayak ayu ting ting). Lalu ada orang yang bilang, “itu orangnya baru turun”.. Hmm.. setelah kupikir rasanya ini komplotan, entah berapa orang, bisa 3-5 orang.

Wuaaaahhh.,,, benar-benar stress. BB tu baru aku dapat bulan September akhir, dan sekarang November awal. Baru dua bulan kurang lebih. Di dalamnya pun ada banyak data nomer telepon.. Huaaaa...

Benar-benar shock rasanya. Kejadian ini berturut-turut dan hampir bersamaan. Mungkin aku memang harus lebih berhati-hati..

Tapi di balik musibah pasti selalu ada hikmah. Dan aku harus selalu yakin Dia akan selalu memberi yang terbaik bagi Hamba-Nya.

Senin, 31 Oktober 2011

Kala Sang Ular Kehilangan Taringnya

Sang ular kini sudah tak seperti dulu lagi. Tak lagi ganas seperti dulu. Torehan treble winners 2009-10 tinggalah kenangan. Kini sang ular harus terpuruk di posisi ke-17 hanya mengoleksi 2 kemenangan dari 9 laga.

Kekalahan dari Sang Nyonya Tua beberapa waktu lalu menunjukkan ada yang salah dengan Sang Ular. Mungkin saja sang ular belum bisa menemukan pelatih yang cocok setelah ditinggalkan The Special One, Jose Mourinho.

Musim lalu, sebenarnya Leonardo cukup berhasil menangani sang ular. Raihan runner-up Serie A dan juara Coppa Italia sudah lumayan bagus untuk pelatih pendatang. Apalagi dia tak menangani tim sejak awal. Apa daya, kini dia sudah memilih sebagai direktur teknis PSG.

Membicarakan faktor Calciopoli tampaknya tak ada hubungannya dengan terpuruknya sang ular. Sekalipun ada Calciopoli tak akan menolong jika bisa kalah dari tim semacam Palermo, Novara, dan Catania. Tudingan yang mengatakan sang ular hanya bisa sukses karena Calciopoli sungguh mengada-ngada.

Lalu ada apa dengan ular besar ini? Masalah sejak awal musim sepertinya menjadi biang terpuruknya tim ini. Gian Piero Gasperini masih bukanlah pelatih berkelas menangani sang ular. Ranieri, walau sempat menuai harapan tampaknya kini kesulitan karena harus menangani tim yang sedang bermasalah.

Perekrutan pemain juga masih belum menunjukkan hal yang bagus. Diego Forlan belum bisa beradaptasi. Sang ular kehilangan sosok Samuel Eto’o yang kini telah membela klub Rusia, Anzhi Makhachkala.

Untunglah di Liga Champions sang ular masih bisa dikatakan lumayan. Berada di puncak klasemen grup A dengan torehan 6 poin dan berpeluang besar lolos ke babak selanjutnya. Tapi itu belum bisa dijadikan patokan sebab lawan yang dihadapi juga belum bisa dikatakan tangguh.

Kini sang ular benar-benar harus berbenah. Kesetiaan para fans benar-benar diuji di sini. Fans yang bukan hanya “glory hunter” tapi terus mendukung saat keadaan terpuruk sekalipun.

Karena sang ular – Il Biscione adalah La Beneamata alias yang dicintai..
Inilah roda kehidupan, tak selamanya kita berada di atas. Moga kita bisa mengambil hikmah (ibroh) dari kejadian ini.

Entri yang Diunggulkan

Pria Ini Tidak Datang ke CFD. CFD-lah yang Datang Kepadanya

Sebuah kisah spiritual, olahraga, dan pengalihan arus lalu lintas Suasana CFD dadakan depan kosan Ada banyak hal aneh yang terjadi sela...