Dulu, salah satu ketakutan terbesar saya sebagai orang tua adalah satu hal:
“Kalau saya berpisah, bagaimana dengan anak saya?”
Pertanyaan itu terus berputar di kepala.
Banyak yang bilang, jangan sampai cerai, kasihan anak.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat sekali dibawa.
Akhirnya, keputusan itu tetap terjadi.
Bukan keputusan yang mudah, dan jujur saja, setelahnya pun masih ada rasa bersalah.
Saya sering bertanya dalam hati,
apakah ini keputusan yang tepat untuk anak saya, Mizan.
Waktu berjalan seperti biasa.
Mizan tetap sekolah, tetap bermain, terlihat baik-baik saja seperti anak pada umumnya.
Tapi sebagai orang tua, rasa khawatir itu tidak pernah benar-benar hilang.
Sampai suatu hari, saya mendapat cerita dari guru di sekolahnya.
Bukan cerita besar, bukan sesuatu yang dramatis.
Tapi cukup untuk membuat saya diam cukup lama.
Katanya, Mizan sekarang terlihat lebih tenang.
Lebih ceria.
Lebih nyaman berinteraksi.
Di momen itu, ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
Antara lega, terharu, dan… sedikit menyesal karena terlalu lama takut.
Saya baru sadar satu hal:
anak ternyata bisa merasakan hal-hal yang tidak kita ucapkan.
Mereka tahu ketika rumah terasa tegang.
Mereka tahu ketika suasana tidak benar-benar hangat, meskipun terlihat “utuh” dari luar.
Dan mungkin, dalam beberapa kondisi,
yang anak butuhkan bukan sekadar orang tuanya tetap bersama,
tapi lingkungan yang lebih tenang dan sehat secara emosional.
Pengalaman ini tidak berarti semua cerita akan sama.
Setiap keluarga punya kondisi yang berbeda.
Tapi setidaknya, ini mengajarkan saya bahwa
tidak semua perceraian otomatis melukai anak.
Kadang, justru dari situ,
anak bisa bernapas lebih lega.
Dan sebagai orang tua,
yang terpenting bukan mempertahankan bentuk,
tapi memastikan anak tetap tumbuh dalam rasa aman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)