Selasa, 31 Maret 2026

Telepon Tengah Malam Itu: Tangis Ibu, Tenang Ayah, dan Nama Mizan



Ada satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan.
Malam ketika semuanya runtuh, tapi di saat yang sama… sesuatu dalam diri saya justru terbentuk ulang.

Saya menelepon ibu.
Saat itu saya belum sempat bercerita apa-apa. Belum menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tapi suara saya sudah pecah duluan. Tangis saya keluar tanpa bisa ditahan.

Anehya, ibu tidak bertanya.
Ibu tidak menunggu penjelasan.
Ibu langsung ikut menangis.

Di situ saya sadar, kadang seorang ibu tidak butuh cerita lengkap.
Cukup dari suara anaknya, ia tahu: ada yang sedang tidak baik-baik saja.

Tapi yang lebih saya ingat bukan hanya tangisan itu.
Yang paling membekas adalah… apa yang saya ucapkan di tengah histeris.

Saya tidak menyebut nama istri saya.
Saya tidak bertanya “kenapa ini terjadi?”
Saya tidak marah.

Yang keluar dari mulut saya hanya satu kalimat, berulang-ulang:

“Mizan anak Luzman… Mizan anak Luzman… gimana Mizan… gimana Mizan…”

Di momen itu, saya sadar sesuatu.
Saya tidak sedang menangisi pasangan.
Saya sedang takut kehilangan arah sebagai seorang ayah.

Ibu terus menangis di ujung telepon.
Lalu ayah mengambil alih.

Berbeda dengan ibu, ayah tidak ikut larut dalam tangis.
Suaranya tenang. Tegas. Seolah ingin menarik saya keluar dari kekacauan itu.

Ayah berkata:

“Mizan mah anak sholeh atuh… kan sama Luzman dari kecil juga sudah diajarin sholat. Tenang aja, Mizan anak sholeh.”

Kalimatnya sederhana.
Tapi entah kenapa, itu seperti menahan saya agar tidak jatuh lebih dalam.

Di tengah rasa hancur, ayah tidak membahas masalahnya.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Tidak memperkeruh keadaan.

Ayah justru mengingatkan saya pada satu hal yang paling penting:
hubungan saya dengan anak saya.

Bahwa di tengah kekacauan orang dewasa,
ada satu hal yang tetap harus dijaga: masa depan seorang anak.

Malam itu, saya berhenti menangis sejenak.
Bukan karena rasa sakitnya hilang.
Tapi karena saya diingatkan siapa diri saya sebenarnya.

Saya mungkin gagal sebagai suami.
Tapi saya tidak boleh gagal sebagai ayah.

Sejak malam itu, fokus saya berubah.
Saya tidak lagi sibuk mempertanyakan kenapa ini terjadi.
Saya tidak lagi mengejar sesuatu yang sudah hancur.

Saya hanya punya satu pikiran:
Mizan harus tetap baik-baik saja.

Karena pada akhirnya,
yang paling kita cintai akan selalu menunjukkan arah saat kita tersesat.

Dan bagi saya, arah itu adalah:
Mizan.



Minggu, 29 Maret 2026

Drama Rumah Sakit: Laper, Ngantuk, dan Trauma Nama Mantan



Gue kemarin punya pengalaman yang… jujur aja, antara kasihan sama diri sendiri dan pengen ketawa.

Jadi ceritanya, gue nemenin nyokap operasi tangan. Dateng pagi banget, jam 7. Dengan kondisi belum sarapan, belum siap mental, dan jujur aja… belum siap hidup juga.

Awalnya gue pikir, “Ah paling bentar.”
Ternyata… tiga jam.

Tiga jam nunggu di depan ruang operasi itu bukan sekadar nunggu. Itu udah masuk kategori retreat kehidupan. Lo duduk, bengong, mulai mikir hal-hal random, sampai akhirnya mempertanyakan semua keputusan hidup.

Dan tentu saja, karena kombinasi laper + ngantuk + suasana rumah sakit yang hening… gue ketiduran.
Di depan ruang operasi. Kelas banget.

Lalu terjadilah momen yang tidak akan saya lupakan.

Tiba-tiba ada suara perawat manggil:

“Keluarga Ibu Dea…”

Dalam kondisi setengah sadar, otak gue belum nyala penuh. Refleks gue langsung jawab:

“Eh iya.”

Padahal… gue sudah cerai.

Perawatnya mungkin agak bingung, dia nanya lagi:

“Bener keluarga Ibu Dea?”

Di titik itu, otak gue akhirnya booting. Loading…
Dan gue langsung sadar:

“Eh… bukan.”

Di dalam hati gue langsung panik:

“Lah ini mantan ngapain masuk ke skenario hidup gue lagi?”

Yang bikin makin absurd, ternyata memang nama pasiennya sama persis kayak nama mantan gue.

Dan yang lebih parah lagi… suaminya itu lama banget nyaut.

Jadi selama beberapa detik, gue ada di kondisi menggantung:

“Ini gue yang dipanggil… atau bukan… atau gimana sih hidup gue ini?”

Itu detik-detik yang aneh banget. Antara pengen kabur, pengen ngakak, sama pengen nanya ke semesta:

“Kenapa harus nama itu lagi?”

Akhirnya si suaminya nyaut juga, dan gue bisa kembali ke realita sebagai… orang yang salah respon karena lapar.

Dari situ gue jadi sadar satu hal:

Mantan itu emang bisa hilang dari hidup kita…
Tapi kadang namanya masih muncul di momen yang nggak penting.

Kayak iklan pinjol. Tiba-tiba muncul, padahal kita nggak butuh.

Untungnya perawatnya nggak lanjut ngomong:

“Pak, ikut tanda tangan persetujuan operasi ya.”

Kalau itu kejadian…
Kayaknya gue nggak cuma salah nyaut.

Gue langsung trauma level baru.


"Bau Air Mata" yang Sampai ke Jakarta: Saat Curhatan Cerai Saya Dibacakan Raditya Dika



Siapa sangka, sebuah kartu pos fisik yang ditulis dengan tangan gemetar dan hati yang remuk bisa menempuh perjalanan ribuan kilometer, hanya untuk berakhir di meja seorang Raditya Dika.

Bagi sebagian orang, mengirim kartu pos mungkin terasa kuno di era WhatsApp dan DM Instagram. Namun, bagi saya, kartu pos itu adalah satu-satunya cara untuk melepaskan beban yang selama ini menyesakkan dada. Sebuah pesan singkat tentang sebuah akhir: perceraian.

Soundtrack Luka di Atas Kertas

Dalam kartu pos tersebut, saya jujur apa adanya. Saya bercerita tentang pengkhianatan, tentang bagaimana dunia seolah berhenti berputar saat mengetahui pasangan yang saya percayai justru memilih orang lain.

Saya bahkan mengutip lirik lagu Sherina, "Pergilah Kau", yang mendadak jadi lagu tema hidup saya. “Ku tak mau lagi, aku tak mau lagi...” Lirik itu bukan sekadar kata-kata, tapi sebuah pernyataan sikap untuk mencoba pulih meski tertatih.



Respon yang Tak Terduga

Minggu (29/3), saat video terbaru Raditya Dika berjudul "Perangko Zaman Kemerdekaan" tayang, jantung saya berdegup kencang. Di menit ke-12, Bang Radit memegang kartu pos buatan saya sendiri.

"Gua baru aja cerai, istri gua selingkuh. Rasanya kayak dunia berhenti muter," baca Radit di depan jutaan penontonnya.

Ada momen satir sekaligus hangat saat Radit berseloroh bahwa kartu pos saya "bau air mata" dan ia hampir ingin mengendus aromanya—sebuah ciri khas komedi Radit yang justru membuat suasana terasa lebih ringan. Meski dia bercanda, pesan dukungannya sangat terasa: "Nanti pelan-pelan pulih."

Lebih dari Sekadar Konten

Menonton cerita pribadi saya dibacakan bukan hanya soal "masuk YouTube". Ini adalah sebuah validasi. Bahwa luka ini nyata, dan bahwa saya tidak sendirian dalam menghadapi kehancuran emosional.

Kartu pos itu kini mungkin tersimpan di PO Box 1213 Jakarta Selatan, atau mungkin sudah berpindah ke arsip pribadi seorang komedian papan atas Indonesia. Tapi bagi saya, kartu pos itu adalah bukti sejarah bahwa saya pernah hancur, saya pernah berani bercerita, dan sekarang, saya sedang dalam proses untuk bangkit kembali dengan kepala tegak.

Terima kasih, Bang Radit, sudah menjadi "telinga" bagi surat yang bau air mata ini.


Catatan Penulis: Artikel ini dibuat sebagai pengingat bahwa setiap luka punya cara unik untuk sembuh, terkadang lewat prangko dan secarik kertas.

Sabtu, 14 Februari 2026

Kolam Renang Plaza Festival: Tiket Mulai Rp10.500, Murah Banget di Tengah Jakarta



Buat kamu yang lagi cari kolam renang murah di Jakarta, kolam renang di Plaza Festival bisa jadi pilihan menarik. Lokasinya strategis dan harganya ramah di kantong, bahkan mulai Rp10.500 saja.

Kolam renang ini berada di area GOR Soemantri Brodjonegoro, yang sudah lama dikenal sebagai fasilitas olahraga publik dengan tarif terjangkau.

Jam Buka dan Tarif Tiket Masuk

Kolam renang Plaza Festival sudah buka sejak pukul 06.00 WIB. Namun, penting untuk memperhatikan jam kunjungan karena tarif tiket berbeda-beda tergantung waktu dan hari. Untuk pembayaran, hanya bisa menggunakan non tunai atau QRIS ya.

Hari Senin–Jumat

  • 06.00–08.00 WIB: Rp30.500

  • 08.00–11.00 WIB: Rp10.500 (tarif termurah)

  • 13.00–19.00 WIB: Rp30.500

Buat yang ingin hemat, datanglah hari kerja antara pukul 08.00–11.00 WIB, karena di jam inilah harga tiket paling murah.


 

Hari Sabtu

  • 08.00–11.00 WIB: Rp12.500

  • Di luar jam tersebut: Rp35.500

Hari Minggu & Libur Nasional

  • Semua jam: Rp35.500

Catatan penting, satu tiket hanya berlaku untuk satu orang, baik anak-anak maupun dewasa tetap wajib membeli tiket.

Tersedia Tiga Kolam dengan Kedalaman Berbeda

Kolam renang Plaza Festival cocok untuk semua usia, karena tersedia tiga kolam dengan kedalaman berbeda, yaitu:

  • Kolam dangkal 0,6 meter: aman untuk anak-anak

  • Kolam sedang 1,6 meter: cocok untuk remaja dan dewasa

  • Kolam dalam 2,3 meter: untuk yang sudah mahir berenang

Dengan pilihan ini, orang tua nggak perlu khawatir saat mengajak anak-anak berenang.

Ada Kantin, Bisa Jajan Setelah Renang

Nggak cuma berenang, pengunjung juga bisa jajan di area kantin. Tersedia berbagai pilihan makanan ringan seperti:

  • Indomie

  • Bakso

  • Es krim

Cukup buat isi tenaga setelah capek berenang.

Cocok untuk Olahraga Rutin dan Rekreasi Murah

Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, terutama di jam tertentu, kolam renang Plaza Festival cocok untuk:

  • Olahraga rutin sebelum atau setelah kerja

  • Rekreasi keluarga tanpa bikin dompet menjerit

  • Latihan berenang anak-anak

Kalau kamu cari kolam renang murah, lokasi strategis, dan fasilitas lengkap, tempat ini layak masuk daftar.



Sabtu, 13 Desember 2025

Aa Mizan Berenang Bareng Papa

Aa,

Kemarin di LRT, waktu Papa gendong kamu dan kepala kamu nyender pelan di pundak Papa, dunia rasanya berhenti sebentar.

 Di keramaian, di capeknya perjalanan, kamu milih Papa sebagai tempat paling aman. Itu bukan hal kecil, Nak. Itu kepercayaan.

Di kolam renang, Papa juga gendong kamu. Di bagian kolam yang agak dalam, sekitar 1,6 meter, kamu percaya sama Papa. Papa gendong dan jalan bareng kamu sampai ke ujung kolam.

@luzmankarami Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “setiap hal yang tidak ada dzikir kepada Allah adalah lahwun (kesia-siaan) dan permainan belaka, kecuali empat: candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, latihan memanah, dan mengajarkan renang”. #gsmb #renang #kolamrenang #hadisrenang #berenang ♬ Enjoy Every Moment - Noa Belle


 Kita belajar gerakin kaki, tangan, tahan napas—pelan-pelan. Kamu sempat ragu, tapi kamu coba. Dan kamu bisa. Bukan karena Papa hebat, tapi karena kamu percaya dan berani.

Kalau suatu hari nanti kamu lupa momen ini, Papa harap tubuhmu tetap ingat: bahwa kamu pernah tenang di pundak Papa, dan pernah berani melangkah di air dengan keyakinan.

Papa mungkin nggak selalu sempurna, tapi Papa selalu ada. Dan selama kamu mau bersandar, Papa akan jadi tempat pulang.

— Papa

Selasa, 02 Desember 2025

Refleksi: Antara Mizan di Akhirat dan Mizan dalam Hidupku



Kadang aku berpikir, betapa Allah itu Maha Halus dalam memberi tanda. Dalam agama, Mizan adalah timbangan amal—simbol keadilan, hari ketika setiap kebaikan sekecil debu pun dihitung. Lalu Allah titipkan seorang anak kepadaku, dan aku menamainya Mizan

Seolah Allah ingin mengingatkanku setiap hari bahwa hidup ini adalah perjalanan mengumpulkan kebaikan, dan anakku adalah salah satu amal terbesar yang harus kujaga.

Setiap senyum, setiap panggilan “Papa,” setiap kali ia menggenggam tanganku—semuanya menjadi pengingat bahwa kebaikan itu bukan hanya tentang ibadah yang tampak, tapi tentang tanggung jawab, kasih sayang, dan perjuangan menjadi ayah yang hadir sepenuh hati.

 Mizan membuatku ingin jadi manusia yang lebih baik, lebih sabar, lebih ikhlas. Karena kelak, saat Yaumul Mizan tiba, aku ingin timbangan amal itu berat bukan hanya oleh doa-doaku, tapi juga oleh cinta dan pengorbananku untuknya.

Dan pada akhirnya, mungkin itulah mengapa Allah mempertemukan aku dengan seorang anak bernama Mizan: agar setiap langkahku selalu terarah pada kebaikan, dan setiap perjuanganku memiliki makna yang abadi.


Sabtu, 22 November 2025

Anugerah Terindah Bernama Mizan Ahsan Karami

Melihat tawamu… mendengar suaramu memanggil “Papa”… rasanya seperti dunia yang tadinya berat, penuh arah yang tak jelas, tiba-tiba menjadi lebih ringan dan lebih sederhana: cukup ada kamu.

Aku dulu berpikir kebahagiaan itu tentang memiliki hidup yang tertata, rencana yang berjalan mulus, dan masa depan yang jelas tujuannya. Tapi ternyata, kebahagiaan itu sesederhana melihatmu tertawa sambil berlari kecil, tanpa tahu apa yang Papa pikirkan, tanpa sadar bahwa kamu justru sedang menjadi jawaban dari banyak doa yang pernah Papa panjatkan.

> Terlihat jelas bahwa hatimu,
anugerah terindah yang pernah kumiliki.

Aku tidak selalu kuat. Kadang ada hari-hari di mana dada berat, mata panas, dan hati seperti tidak punya rumah untuk pulang. Tapi di setiap masa yang sulit itu, ada momen kecil ketika kamu memeluk Papa, atau hanya sekadar berkata, “Papa nanti jemput Aa ya…”
Dan entah bagaimana, semua rasa lelah itu perlahan luruh.

Saat kamu di sisiku, dunia kembali ceria. Bukan karena semuanya tiba-tiba membaik, tapi karena kamu mengajarkan arti baru dari kata cukup.

Aku mungkin tidak lagi mengejar kesempurnaan — karena aku sudah menemukan keutuhan yang sebenarnya. Bukan rumah yang besar, bukan hidup yang mulus, tapi hati kecilmu yang bersandar padaku dengan rasa percaya.

> Belai lembut jarimu,
sejuk tatap wajahmu,
hangat peluk janjimu…

Kamu tidak tahu, Nak, tapi Papa belajar banyak dari tatapanmu yang tenang. Dari caramu menggenggam tangan Papa tanpa takut. Dari caramu percaya, bahwa punya Papa saja sudah cukup bagimu.

Dan dari situ, Papa belajar percaya…
Bahwa Allah memang tidak selalu memberi apa yang kita minta,
tapi selalu memberi apa yang kita butuhkan.

Dan itu adalah kamu.

Anugerah terindah yang pernah Papa miliki.
Dan akan Papa jaga — sampai kapan pun, dengan cara yang paling tulus.

Entri yang Diunggulkan

Telepon Tengah Malam Itu: Tangis Ibu, Tenang Ayah, dan Nama Mizan

Ada satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan. Malam ketika semuanya runtuh, tapi di saat yang sama… sesuatu dalam diri saya justru...