Gue kemarin punya pengalaman yang… jujur aja, antara kasihan sama diri sendiri dan pengen ketawa.
Jadi ceritanya, gue nemenin nyokap operasi tangan. Dateng pagi banget, jam 7. Dengan kondisi belum sarapan, belum siap mental, dan jujur aja… belum siap hidup juga.
Awalnya gue pikir, “Ah paling bentar.”
Ternyata… tiga jam.
Tiga jam nunggu di depan ruang operasi itu bukan sekadar nunggu. Itu udah masuk kategori retreat kehidupan. Lo duduk, bengong, mulai mikir hal-hal random, sampai akhirnya mempertanyakan semua keputusan hidup.
Dan tentu saja, karena kombinasi laper + ngantuk + suasana rumah sakit yang hening… gue ketiduran.
Di depan ruang operasi. Kelas banget.
Lalu terjadilah momen yang tidak akan saya lupakan.
Tiba-tiba ada suara perawat manggil:
“Keluarga Ibu Dea…”
Dalam kondisi setengah sadar, otak gue belum nyala penuh. Refleks gue langsung jawab:
“Eh iya.”
Padahal… gue sudah cerai.
Perawatnya mungkin agak bingung, dia nanya lagi:
“Bener keluarga Ibu Dea?”
Di titik itu, otak gue akhirnya booting. Loading…
Dan gue langsung sadar:
“Eh… bukan.”
Di dalam hati gue langsung panik:
“Lah ini mantan ngapain masuk ke skenario hidup gue lagi?”
Yang bikin makin absurd, ternyata memang nama pasiennya sama persis kayak nama mantan gue.
Dan yang lebih parah lagi… suaminya itu lama banget nyaut.
Jadi selama beberapa detik, gue ada di kondisi menggantung:
“Ini gue yang dipanggil… atau bukan… atau gimana sih hidup gue ini?”
Itu detik-detik yang aneh banget. Antara pengen kabur, pengen ngakak, sama pengen nanya ke semesta:
“Kenapa harus nama itu lagi?”
Akhirnya si suaminya nyaut juga, dan gue bisa kembali ke realita sebagai… orang yang salah respon karena lapar.
Dari situ gue jadi sadar satu hal:
Mantan itu emang bisa hilang dari hidup kita…
Tapi kadang namanya masih muncul di momen yang nggak penting.
Kayak iklan pinjol. Tiba-tiba muncul, padahal kita nggak butuh.
Untungnya perawatnya nggak lanjut ngomong:
“Pak, ikut tanda tangan persetujuan operasi ya.”
Kalau itu kejadian…
Kayaknya gue nggak cuma salah nyaut.
Gue langsung trauma level baru.





