Minggu, 09 Agustus 2026

Ketika Ada Seseorang yang Tak Mau Melepaskan Tanganmu

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa kehilangan hampir semuanya.

Aku pernah berada di titik itu.

Sebuah pernikahan berakhir. Aku jauh dari anak. Pekerjaan pun ikut hilang. Banyak hal yang dulu terasa pasti, tiba-tiba berubah menjadi tanda tanya.

Di tengah keadaan seperti itu, aku bertemu dengan seseorang.

Namanya Rika.

Dia datang bukan ketika hidupku sedang baik-baik saja. Dia datang ketika aku sedang berada di titik terendah.

Dan yang paling membuatku bersyukur sampai hari ini adalah satu hal sederhana:

Dia tidak pergi.

You Raise Me Up

Ada sebuah lagu Westlife yang belakangan terasa begitu dekat denganku, You Raise Me Up.

Bukan karena liriknya semata, tetapi karena perasaan yang dibawanya.

Tentang seseorang yang datang ketika kita sedang lelah, ketika hati sedang penuh beban, lalu memilih duduk di samping kita dan membuat kita kembali kuat.

Begitulah kira-kira Rika hadir dalam hidupku.

Dia membuatku merasa ada.

Merasa dihargai.

Merasa diperhatikan.

Dan yang paling penting, merasa dicintai.

Aku bahkan baru menyadari bahwa perhatian tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar.

Kadang perhatian justru ada dalam hal-hal yang sangat kecil.

Rika memperhatikan pakaianku. Mengingatkan ketika retsleting jaketku kurang tertutup. Memperhatikan kaos kaki. Mengingatkanku membawa atau minum tolak angin.

Bagi orang lain mungkin sepele.

Tapi buatku, justru hal-hal kecil seperti itu yang terasa begitu besar.

Karena dari sana aku tahu bahwa ada seseorang yang benar-benar memperhatikanku.

Tangan yang Tidak Dilepas

Ada beberapa kenangan sederhana bersama Rika yang sampai sekarang masih sering terlintas di kepalaku.

Waktu kami menonton Cerita Lila di bioskop, tangannya tidak lepas dari tanganku sepanjang film.

Saat menonton Spider-Man, hal yang sama terjadi.

Tidak ada kata-kata romantis yang berlebihan.

Hanya tangan yang saling menggenggam.

Tapi entah kenapa, justru itu yang terasa begitu berarti.

Kemudian ada waktu ketika kami menonton konser Iwan Fals.

Beberapa kali Rika memelukku di tengah konser.

Dan ketika konser selesai, saat kami berjalan keluar dari tempat itu, tangannya justru menggenggam tanganku lebih erat.

Aku masih ingat rasanya.

Mungkin bagi orang lain itu hanya sebuah genggaman tangan.

Tapi bagiku, genggaman itu seperti mengatakan sesuatu tanpa suara:

"Aku di sini."

Dan setelah semua yang aku lewati, kalimat sederhana seperti itu terasa luar biasa.

Dicintai Lewat Hal-Hal Kecil

Dulu mungkin aku berpikir dicintai berarti mendapatkan kata-kata manis, kejutan, atau sesuatu yang besar.

Sekarang aku justru merasa cinta sering kali hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Dalam pertanyaan, "Sudah makan?"

Dalam mengingatkan memakai jaket.

Dalam memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan kita sendiri lupa.

Dalam genggaman tangan ketika menonton film.

Dalam pelukan di tengah konser.

Dalam tangan yang digenggam lebih erat ketika berjalan pulang.

Dari Rika, aku belajar bahwa dicintai bukan hanya tentang seseorang yang berkata bahwa dia sayang.

Tetapi tentang seseorang yang membuat kita merasakan bahwa kita disayang.

Aku Datang dari Banyak Kehilangan

Aku tahu aku bukan laki-laki yang sempurna.

Aku punya masa lalu. Aku punya kekurangan. 

Dan ketika Rika hadir, aku sedang membawa banyak sekali hal yang belum selesai dalam hidupku.

Aku baru mengalami perceraian.

Aku jauh dari anak.

Aku kehilangan pekerjaan.

Aku bahkan sempat kehilangan keyakinan pada diriku sendiri.

Tetapi Rika tetap ada.

Dia membuatku kembali bersemangat.

Membuatku ingin bangkit.

Membuatku ingin menata hidup kembali.

Dan mungkin itulah alasan mengapa aku begitu menghargai kehadirannya.

Dia tidak menyelamatkanku dengan cara menghilangkan semua masalah.

Dia membuatku merasa bahwa aku tidak harus menghadapi semua masalah itu sendirian.

Tentang Sebuah Janji

Aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup bersamaku nanti akan selalu mudah.

Aku juga belum bisa memberikan segala sesuatu yang mungkin dia inginkan.

Tapi aku bisa menjanjikan satu hal:

Aku akan berusaha.

Aku akan berusaha bangkit.

Aku akan bekerja keras.

Aku akan mengejar mimpi-mimpiku.

Dan kalau Allah mengizinkan, aku ingin mewujudkan mimpi-mimpi itu bersama Rika.

Aku ingin suatu hari nanti kami bisa melihat kembali masa-masa sulit ini dan berkata,

"Ternyata semua perjuangan kita dulu tidak sia-sia."

Aku ingin terus melihat senyumnya.

Aku ingin menjadi seseorang yang membuatnya merasa aman, dihargai, dan dicintai.

Sebagaimana dia membuatku merasakan semua itu.

Semoga Tidak Berhenti di Sini

Aku tidak ingin hubungan ini hanya menjadi sebuah cerita tentang dua orang yang pernah saling mencintai.

Aku ingin ceritanya terus berjalan.

Kalau Allah memang menuliskan Rika sebagai jodohku, aku ingin hubungan ini sampai ke pernikahan.

Aku ingin suatu hari nanti bukan hanya menggenggam tangannya sebagai pacar.

Aku ingin menggenggam tangannya sebagai istriku.

Menjalani hari-hari sederhana bersama.

Saling mengingatkan.

Saling menjaga.

Saling menguatkan.

Sampai suatu hari nanti kita sama-sama tua.

Mungkin pada akhirnya, setelah semua kehilangan yang pernah aku alami, aku tidak sedang mencari seseorang yang sempurna.

Aku hanya ingin seseorang yang mau berjuang bersamaku.

Dan untuk saat ini, aku merasa sudah menemukan seseorang itu.

Namanya Rika.

Terima Kasih Sudah Menggenggam Tanganku

Sayang, kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, aku ingin kamu tahu satu hal.

Terima kasih.

Terima kasih karena datang ketika aku sedang jatuh.

Terima kasih karena tetap tinggal ketika hidupku sedang tidak baik-baik saja.

Terima kasih karena memperhatikan hal-hal kecil tentangku.

Terima kasih untuk semua genggaman tanganmu.

Untuk tangan yang tidak kamu lepaskan ketika kami menonton film.



Untuk pelukanmu di tengah konser.

Untuk genggaman yang justru semakin erat ketika kami berjalan pulang.

Mungkin kamu tidak pernah tahu betapa berarti semua itu untukku.

Karena setelah melewati begitu banyak kehilangan, ternyata ada sesuatu yang sangat sederhana yang bisa membuatku merasa tenang:

ada seseorang yang menggenggam tanganku dan tidak ingin melepaskannya.

Aku sayang kamu, Rika.

Semoga Allah menjaga kamu.

Menjaga aku.

Menjaga hubungan kita.

Dan menjaga semua niat baik yang sedang kita perjuangkan.

Semoga suatu hari nanti, kalimat:

"Semoga kita bisa menikah."

benar-benar berubah menjadi:

"Alhamdulillah, akhirnya kita menikah."

Dan ketika hari itu tiba, mungkin aku akan kembali mengingat semua ini.

Tentang masa ketika hidupku pernah berantakan.

Tentang seorang perempuan yang datang di tengah kekacauan itu.

Tentang bioskop, konser, pelukan, dan genggaman tangan.

Lalu aku akan tersenyum dan berkata dalam hati:

"Ternyata, orang yang dulu menggenggam tanganku di saat aku sedang jatuh, akhirnya menjadi orang yang menggenggam tanganku sampai aku berdiri kembali."

Sabtu, 08 Agustus 2026

Menatap Sang Legenda Iwan Fals di Leuwinanggung: Dari Panggung Batu Bata Hingga Panggung Kita

Sejak berusia tiga tahun, suara dan petikan gitar Iwan Fals sudah menjadi "sajian wajib" sehari-hari di rumah. Semua berkat Bapak yang hobi memutar kaset-kaset Iwan Fals tanpa henti. Dari sering mendengar, lama-kelamaan aku jadi hapal luar kepala lagu-lagunya.


Bahkan, ada satu memori masa kecil yang paling kuingat: aku pernah menaiki tumpukan batu bata di halaman rumah, menjadikannya panggung mini, lalu menyanyikan lagu Bento dengan penuh percaya diri layaknya seorang penyanyi rock papan atas.

Siapa sangka, 35 tahun kemudian, mimpi kecil dari panggung batu bata itu akhirnya menemukan muaranya.

Aku berkesempatan menyaksikan langsung konser sang legenda hidup bersama pacarku, Richa Juniwardani (@richajuniwardani). Bukan di stadion megah atau hall komersial, melainkan langsung di kediaman beliau: Panggung Kita, Leuwinanggung, Depok.

Energi yang Tak Memudar di Usia 64

Iwan Fals kini sudah berusia 64 tahun. Rambutnya memang telah memutih, namun saat ia naik ke atas panggung, energinya seolah tak pernah terkikis oleh zaman. Ia menyanyikan lagu-lagu andalannya dengan artikulasi dan jiwa yang sama kuatnya seperti puluhan tahun lalu.

Satu hal yang membuat bulu kuduk berdiri adalah betapa magis dan relevannya karya-karya beliau. Lagu-lagu lawas ciptaannya tidak hanya menjadi nostalgia, tetapi tetap relate menyuarakan kondisi sosial dan kemanusiaan saat ini.

Lihat saja lirik lagu Puing II (rilis 2004) yang gaungnya masih terasa menampar:

"Tuan, tolonglah tuan perang dihentikan Lihatlah di tanah yang basah Air mata bercampur darah Bosankah telinga tuan Mendengar teriak dendam jemukah hidung tuan Mencium amis jantung korban..."

Atau lagu PHK yang dirilis jauh di tahun 1987. Ketika dilantunkan di panggung, realitanya masih sangat menempel dengan apa yang terjadi di sekeliling kita saat ini:

"Lelaki renta setengah baya Geram di trotoar jalan Saat panas tikam kepala Seorang buruh disingkirkan..."

Rumah Bagi Semua Kalangan

Sore itu di Leuwinanggung, aku melihat pemandangan yang luar biasa. Ribuan fans—tua, muda, laki-laki, perempuan—dari pelbagai latar belakang berkumpul jadi satu. Di Panggung Kita, tidak ada sekat antara kaya dan miskin. Semua orang berdiri, bernyanyi bersama, merayakan karya yang merekatkan perbedaan.

Menyaksikan konser Iwan Fals secara langsung bersama Richa di Leuwinanggung bukan sekadar datang ke sebuah pertunjukan musik. Ini adalah perjalanan menuntaskan rindu masa kecil, merayakan kemanusiaan, dan membuktikan sendiri mengapa seorang Iwan Fals akan selalu menjadi legenda di hati para penggemarnya.

Sabtu, 09 Mei 2026

Pria Ini Tidak Datang ke CFD. CFD-lah yang Datang Kepadanya


Sebuah kisah spiritual, olahraga, dan pengalihan arus lalu lintas

Ada banyak hal aneh yang terjadi selama proses perceraian saya.

Sebagian bikin sedih.
Sebagian bikin mikir.
Sebagian lagi bikin saya bengong sambil lihat langit, mikir:

“Ini hidup lagi ngetes mental apa lagi sih?”

Tapi dari semuanya… ada satu kejadian yang menurut saya paling absurd.

Saya berhasil memindahkan Car Free Day.

Iya.
CFD.
Acara yang biasanya ada di Sudirman, HI, atau GBK itu.

Saya pindahkan.

Bukan pakai jabatan.
Bukan pakai koneksi.
Tapi pakai penderitaan batin dan sepeda Polygon.


Jadi ceritanya saya memang rutin CFD-an tiap Minggu.

Kadang gowes ke GBK.
Kadang ke Sarinah.
Kadang cuma muter sambil pura-pura punya hidup yang stabil.

Karena jujur aja ya, di umur segini olahraga bukan lagi soal six pack.

Tapi lebih ke:

“Ya Allah minimal jangan sampai depresi total.”

Nah minggu ini saya bangun seperti biasa.
Niatnya santai aja.

Keluar kosan di daerah Rasuna Said.

Tiba-tiba…

Loh kok ada pengalihan arus?

Loh kok banyak orang lari?

Loh kok ada panggung?

Loh kok suasananya kayak CFD?

Saya langsung mikir:

“Oh mungkin ada acara kecil.”

Tapi makin maju…

Makin banyak orang olahraga.

Makin banyak sepeda.

Makin banyak orang pakai baju dry-fit warna neon yang kalau kena matahari bisa dipakai jadi lampu hazard.

Dan akhirnya saya sadar.

INI CFD.

DEPAN KOSAN SAYA.


Saya langsung diem.

Bengong.

Terharu.

Karena biasanya saya yang nyamperin CFD.

Ini CFD yang nyamperin saya.

Di titik itu saya merasa semesta lagi ngomong:

“Udah lah Man… hidup lu lagi berat.
Ga usah jauh-jauh ke Sudirman.
Nih kita kirim CFD ke rumah lu.”

Jujur saya hampir nangis.

Tapi untung cowok Indonesia diajarinnya menahan emosi.

Jadi saya cuma:

“hehe gila juga ya.”

Padahal dalem hati:

“YA ALLAH INI APAAN 😭”


Dan makin dipikir-pikir, hidup saya akhir-akhir ini memang penuh kejadian absurd.

Kadang rencana tiba-tiba dimudahkan.

Kadang hujan berhenti pas mau berangkat.

Kadang jadwal kuliah mendadak batal tepat waktu.

Kadang lagi capek banget terus tiba-tiba ketemu momen kecil yang bikin ketawa sendiri.

Orang mungkin bilang:

“Ah itu mah kebetulan.”

Ya mungkin.

Tapi manusia itu aneh.

Kalau hidup lagi capek, hal kecil aja bisa terasa kayak pelukan dari langit.

Termasuk… CFD pindah ke depan kosan.


Dan saya yakin panitia CFD itu juga ga ngerti dampaknya sebesar apa.

Bagi mereka mungkin cuma:

“Oke kita bikin event olahraga.”

Bagi saya:

“INI TANDA BAHWA SAYA MASIH DICINTAI SEMESTA.”

😭


Sekarang saya jadi takut sendiri.

Takut terlalu sering berharap.

Nanti tiba-tiba:

  • Monas dipindah ke Kuningan.
  • Bundaran HI geser ke Tebet.
  • Atau Tour de France start dari depan kosan saya.

Karena apparently hidup saya sekarang operating system-nya bukan Android lagi.

Tapi:

Mukjizat OS 1.0 😭🚴


Jumat, 17 April 2026

Pelarian Sakti: Bagaimana Persib dan Inter Milan Menyelamatkan Waras Gue Saat Cerai


Banyak orang bilang, perceraian itu seperti kiamat kecil. Dunia yang kamu bangun bertahun-tahun runtuh dalam semalam. Pas itu terjadi sama gue, rasanya bukan cuma hati yang hancur, tapi fisik pun ikut tumbang. Gue ingat banget, saat pertama kali tahu mantan pasangan selingkuh, tensi darah gue langsung melonjak ke 150/102. Kepala rasanya berdenyut hebat, dan dunia seakan berhenti berputar.

Tapi di tengah kekacauan itu, ada satu pelarian yang nggak gue sangka bakal jadi "penyelamat" kesehatan mental gue: Sepak Bola.

Keajaiban di Puncak Klasemen

Ada satu keberuntungan di balik musibah ini. Di saat gue lagi galau-galaunya, dua klub favorit gue, Persib Bandung dan Inter Milan, justru lagi berada di performa terbaiknya. Keduanya sama-sama lagi di puncak klasemen. Gue selalu membatin, "Alhamdulillah, untung gue bukan fans MU," karena kalau iya, mungkin tensi gue nggak bakal turun-turun akibat nonton tim kesayangan kalah mulu, hehe.

Momen titik balik gue terjadi pas ada pertandingan PSBS Biak vs Persib. Dalam kondisi stres berat, gue mutusin buat keluar rumah dan nonton di bioskop CGV. Hasilnya? Persib menang telak 3-0. Rasanya seperti ada beban yang terangkat. Kemenangan itu seolah jadi pesan dari semesta: "Tenang, hidup lo mungkin lagi di bawah, tapi kebahagiaan itu masih ada."

Lirik lagu Pas Band tiba-tiba terasa begitu personal:

"Panas dan hujan datang, Persib harus tetap menang. Kalau menang kita senang, Jawa Barat teu hariwang."

Ritual Jam 3 Pagi di Kantor Kosong

Karena gue nggak mau larut dalam kesedihan di rumah/kosan, gue punya ritual unik. Gue langganan paket streaming bola. Setiap kali Persib atau Inter main, gue nggak boleh absen.

Karena Inter sering main jam 3 dini hari waktu Indonesia, gue sengaja berangkat ke kantor pagi-pagi buta. Kantor masih gelap, sepi, dan nggak ada orang sama sekali. Di situ gue nyalain speaker kantor kencang-kencang, nonton live streaming sambil cicil kerjaan. Suasana sunyi kantor jadi saksi gimana gue merayakan gol-gol Inter sendirian sebagai bentuk terapi.

Katarsis Lewat Lagu Galau

Selain bola, kantor yang sepi di jam-jam "ajaib" (jam 4 sampai 6 pagi) atau saat akhir pekan jadi tempat gue buat meluapkan emosi. Gue bakal setel lagu-lagu galau dengan volume maksimal.

Gue nyanyi teriak-teriak, tanpa takut ada yang dengar atau merasa terganggu:

"Pergilah kau pergi dari hidupku... Ku menangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku..."

Rasanya lega luar biasa. Nyanyi kencang-kencang di tengah kantor kosong itu ternyata salah satu cara paling ampuh buat buang racun-racun emosi di kepala. And it works. Perlahan tapi pasti, gue mulai bisa menerima kenyataan.

Penutup: Cari "Obatmu" Sendiri

Setiap orang punya cara sendiri buat bertahan dari badai. Buat gue, obatnya adalah kemenangan tim kebanggaan dan ruang kosong untuk berteriak. Sepak bola bukan cuma tentang skor di papan digital, tapi tentang harapan yang terus dijaga setiap pekannya.

Kalau dunia pribadimu lagi runtuh, carilah sesuatu yang tetap berdiri tegak untuk kamu pegang. Entah itu hobi, komunitas, atau sekadar menonton tim bola favorit di jam 3 pagi. Yang penting, jangan biarkan dirimu menyerah.

Pergilah masa lalu, datanglah kemenangan baru!


Minggu, 05 April 2026

Ternyata Anak Tidak Selalu Terluka karena Perceraian


Dulu, salah satu ketakutan terbesar saya sebagai orang tua adalah satu hal:
“Kalau saya berpisah, bagaimana dengan anak saya?”

Pertanyaan itu terus berputar di kepala.
Banyak yang bilang, jangan sampai cerai, kasihan anak.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat sekali dibawa.

Akhirnya, keputusan itu tetap terjadi.
Bukan keputusan yang mudah, dan jujur saja, setelahnya pun masih ada rasa bersalah.

Saya sering bertanya dalam hati,
apakah ini keputusan yang tepat untuk anak saya, Mizan.

Waktu berjalan seperti biasa.
Mizan tetap sekolah, tetap bermain, terlihat baik-baik saja seperti anak pada umumnya.
Tapi sebagai orang tua, rasa khawatir itu tidak pernah benar-benar hilang.

Sampai suatu hari, saya mendapat cerita dari guru di sekolahnya.

Bukan cerita besar, bukan sesuatu yang dramatis.
Tapi cukup untuk membuat saya diam cukup lama.

Katanya, Mizan sekarang terlihat lebih tenang.
Lebih ceria.
Lebih nyaman berinteraksi.

Di momen itu, ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
Antara lega, terharu, dan… sedikit menyesal karena terlalu lama takut.

Saya baru sadar satu hal:
anak ternyata bisa merasakan hal-hal yang tidak kita ucapkan.

Mereka tahu ketika rumah terasa tegang.
Mereka tahu ketika suasana tidak benar-benar hangat, meskipun terlihat “utuh” dari luar.

Dan mungkin, dalam beberapa kondisi,
yang anak butuhkan bukan sekadar orang tuanya tetap bersama,
tapi lingkungan yang lebih tenang dan sehat secara emosional.

Pengalaman ini tidak berarti semua cerita akan sama.
Setiap keluarga punya kondisi yang berbeda.

Tapi setidaknya, ini mengajarkan saya bahwa
tidak semua perceraian otomatis melukai anak.

Kadang, justru dari situ,
anak bisa bernapas lebih lega.

Dan sebagai orang tua,
yang terpenting bukan mempertahankan bentuk,
tapi memastikan anak tetap tumbuh dalam rasa aman.

Selasa, 31 Maret 2026

Telepon Tengah Malam Itu: Tangis Ibu, Tenang Ayah, dan Nama Mizan



Ada satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan.
Malam ketika semuanya runtuh, tapi di saat yang sama… sesuatu dalam diri saya justru terbentuk ulang.

Saya menelepon ibu.
Saat itu saya belum sempat bercerita apa-apa. Belum menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tapi suara saya sudah pecah duluan. Tangis saya keluar tanpa bisa ditahan.

Anehya, ibu tidak bertanya.
Ibu tidak menunggu penjelasan.
Ibu langsung ikut menangis.

Di situ saya sadar, kadang seorang ibu tidak butuh cerita lengkap.
Cukup dari suara anaknya, ia tahu: ada yang sedang tidak baik-baik saja.

Tapi yang lebih saya ingat bukan hanya tangisan itu.
Yang paling membekas adalah… apa yang saya ucapkan di tengah histeris.

Saya tidak menyebut nama istri saya.
Saya tidak bertanya “kenapa ini terjadi?”
Saya tidak marah.

Yang keluar dari mulut saya hanya satu kalimat, berulang-ulang:

“Mizan anak Luzman… Mizan anak Luzman… gimana Mizan… gimana Mizan…”

Di momen itu, saya sadar sesuatu.
Saya tidak sedang menangisi pasangan.
Saya sedang takut kehilangan arah sebagai seorang ayah.

Ibu terus menangis di ujung telepon.
Lalu ayah mengambil alih.

Berbeda dengan ibu, ayah tidak ikut larut dalam tangis.
Suaranya tenang. Tegas. Seolah ingin menarik saya keluar dari kekacauan itu.

Ayah berkata:

“Mizan mah anak sholeh atuh… kan sama Luzman dari kecil juga sudah diajarin sholat. Tenang aja, Mizan anak sholeh.”

Kalimatnya sederhana.
Tapi entah kenapa, itu seperti menahan saya agar tidak jatuh lebih dalam.

Di tengah rasa hancur, ayah tidak membahas masalahnya.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Tidak memperkeruh keadaan.

Ayah justru mengingatkan saya pada satu hal yang paling penting:
hubungan saya dengan anak saya.

Bahwa di tengah kekacauan orang dewasa,
ada satu hal yang tetap harus dijaga: masa depan seorang anak.

Malam itu, saya berhenti menangis sejenak.
Bukan karena rasa sakitnya hilang.
Tapi karena saya diingatkan siapa diri saya sebenarnya.

Saya mungkin gagal sebagai suami.
Tapi saya tidak boleh gagal sebagai ayah.

Sejak malam itu, fokus saya berubah.
Saya tidak lagi sibuk mempertanyakan kenapa ini terjadi.
Saya tidak lagi mengejar sesuatu yang sudah hancur.

Saya hanya punya satu pikiran:
Mizan harus tetap baik-baik saja.

Karena pada akhirnya,
yang paling kita cintai akan selalu menunjukkan arah saat kita tersesat.

Dan bagi saya, arah itu adalah:
Mizan.



Minggu, 29 Maret 2026

Drama Rumah Sakit: Laper, Ngantuk, dan Trauma Nama Mantan



Gue kemarin punya pengalaman yang… jujur aja, antara kasihan sama diri sendiri dan pengen ketawa.

Jadi ceritanya, gue nemenin nyokap operasi tangan. Dateng pagi banget, jam 7. Dengan kondisi belum sarapan, belum siap mental, dan jujur aja… belum siap hidup juga.

Awalnya gue pikir, “Ah paling bentar.”
Ternyata… tiga jam.

Tiga jam nunggu di depan ruang operasi itu bukan sekadar nunggu. Itu udah masuk kategori retreat kehidupan. Lo duduk, bengong, mulai mikir hal-hal random, sampai akhirnya mempertanyakan semua keputusan hidup.

Dan tentu saja, karena kombinasi laper + ngantuk + suasana rumah sakit yang hening… gue ketiduran.
Di depan ruang operasi. Kelas banget.

Lalu terjadilah momen yang tidak akan saya lupakan.

Tiba-tiba ada suara perawat manggil:

“Keluarga Ibu Dea…”

Dalam kondisi setengah sadar, otak gue belum nyala penuh. Refleks gue langsung jawab:

“Eh iya.”

Padahal… gue sudah cerai.

Perawatnya mungkin agak bingung, dia nanya lagi:

“Bener keluarga Ibu Dea?”

Di titik itu, otak gue akhirnya booting. Loading…
Dan gue langsung sadar:

“Eh… bukan.”

Di dalam hati gue langsung panik:

“Lah ini mantan ngapain masuk ke skenario hidup gue lagi?”

Yang bikin makin absurd, ternyata memang nama pasiennya sama persis kayak nama mantan gue.

Dan yang lebih parah lagi… suaminya itu lama banget nyaut.

Jadi selama beberapa detik, gue ada di kondisi menggantung:

“Ini gue yang dipanggil… atau bukan… atau gimana sih hidup gue ini?”

Itu detik-detik yang aneh banget. Antara pengen kabur, pengen ngakak, sama pengen nanya ke semesta:

“Kenapa harus nama itu lagi?”

Akhirnya si suaminya nyaut juga, dan gue bisa kembali ke realita sebagai… orang yang salah respon karena lapar.

Dari situ gue jadi sadar satu hal:

Mantan itu emang bisa hilang dari hidup kita…
Tapi kadang namanya masih muncul di momen yang nggak penting.

Kayak iklan pinjol. Tiba-tiba muncul, padahal kita nggak butuh.

Untungnya perawatnya nggak lanjut ngomong:

“Pak, ikut tanda tangan persetujuan operasi ya.”

Kalau itu kejadian…
Kayaknya gue nggak cuma salah nyaut.

Gue langsung trauma level baru.


Entri yang Diunggulkan

Ketika Ada Seseorang yang Tak Mau Melepaskan Tanganmu

Ada masa dalam hidup ketika kita merasa kehilangan hampir semuanya. Aku pernah berada di titik itu. Sebuah pernikahan berakhir. Aku jauh ...