Jumat, 17 April 2026

Pelarian Sakti: Bagaimana Persib dan Inter Milan Menyelamatkan Waras Gue Saat Cerai


Banyak orang bilang, perceraian itu seperti kiamat kecil. Dunia yang kamu bangun bertahun-tahun runtuh dalam semalam. Pas itu terjadi sama gue, rasanya bukan cuma hati yang hancur, tapi fisik pun ikut tumbang. Gue ingat banget, saat pertama kali tahu mantan pasangan selingkuh, tensi darah gue langsung melonjak ke 150/102. Kepala rasanya berdenyut hebat, dan dunia seakan berhenti berputar.

Tapi di tengah kekacauan itu, ada satu pelarian yang nggak gue sangka bakal jadi "penyelamat" kesehatan mental gue: Sepak Bola.

Keajaiban di Puncak Klasemen

Ada satu keberuntungan di balik musibah ini. Di saat gue lagi galau-galaunya, dua klub favorit gue, Persib Bandung dan Inter Milan, justru lagi berada di performa terbaiknya. Keduanya sama-sama lagi di puncak klasemen. Gue selalu membatin, "Alhamdulillah, untung gue bukan fans MU," karena kalau iya, mungkin tensi gue nggak bakal turun-turun akibat nonton tim kesayangan kalah mulu, hehe.

Momen titik balik gue terjadi pas ada pertandingan PSBS Biak vs Persib. Dalam kondisi stres berat, gue mutusin buat keluar rumah dan nonton di bioskop CGV. Hasilnya? Persib menang telak 3-0. Rasanya seperti ada beban yang terangkat. Kemenangan itu seolah jadi pesan dari semesta: "Tenang, hidup lo mungkin lagi di bawah, tapi kebahagiaan itu masih ada."

Lirik lagu Pas Band tiba-tiba terasa begitu personal:

"Panas dan hujan datang, Persib harus tetap menang. Kalau menang kita senang, Jawa Barat teu hariwang."

Ritual Jam 3 Pagi di Kantor Kosong

Karena gue nggak mau larut dalam kesedihan di rumah/kosan, gue punya ritual unik. Gue langganan paket streaming bola. Setiap kali Persib atau Inter main, gue nggak boleh absen.

Karena Inter sering main jam 3 dini hari waktu Indonesia, gue sengaja berangkat ke kantor pagi-pagi buta. Kantor masih gelap, sepi, dan nggak ada orang sama sekali. Di situ gue nyalain speaker kantor kencang-kencang, nonton live streaming sambil cicil kerjaan. Suasana sunyi kantor jadi saksi gimana gue merayakan gol-gol Inter sendirian sebagai bentuk terapi.

Katarsis Lewat Lagu Galau

Selain bola, kantor yang sepi di jam-jam "ajaib" (jam 4 sampai 6 pagi) atau saat akhir pekan jadi tempat gue buat meluapkan emosi. Gue bakal setel lagu-lagu galau dengan volume maksimal.

Gue nyanyi teriak-teriak, tanpa takut ada yang dengar atau merasa terganggu:

"Pergilah kau pergi dari hidupku... Ku menangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku..."

Rasanya lega luar biasa. Nyanyi kencang-kencang di tengah kantor kosong itu ternyata salah satu cara paling ampuh buat buang racun-racun emosi di kepala. And it works. Perlahan tapi pasti, gue mulai bisa menerima kenyataan.

Penutup: Cari "Obatmu" Sendiri

Setiap orang punya cara sendiri buat bertahan dari badai. Buat gue, obatnya adalah kemenangan tim kebanggaan dan ruang kosong untuk berteriak. Sepak bola bukan cuma tentang skor di papan digital, tapi tentang harapan yang terus dijaga setiap pekannya.

Kalau dunia pribadimu lagi runtuh, carilah sesuatu yang tetap berdiri tegak untuk kamu pegang. Entah itu hobi, komunitas, atau sekadar menonton tim bola favorit di jam 3 pagi. Yang penting, jangan biarkan dirimu menyerah.

Pergilah masa lalu, datanglah kemenangan baru!


Minggu, 05 April 2026

Ternyata Anak Tidak Selalu Terluka karena Perceraian


Dulu, salah satu ketakutan terbesar saya sebagai orang tua adalah satu hal:
“Kalau saya berpisah, bagaimana dengan anak saya?”

Pertanyaan itu terus berputar di kepala.
Banyak yang bilang, jangan sampai cerai, kasihan anak.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat sekali dibawa.

Akhirnya, keputusan itu tetap terjadi.
Bukan keputusan yang mudah, dan jujur saja, setelahnya pun masih ada rasa bersalah.

Saya sering bertanya dalam hati,
apakah ini keputusan yang tepat untuk anak saya, Mizan.

Waktu berjalan seperti biasa.
Mizan tetap sekolah, tetap bermain, terlihat baik-baik saja seperti anak pada umumnya.
Tapi sebagai orang tua, rasa khawatir itu tidak pernah benar-benar hilang.

Sampai suatu hari, saya mendapat cerita dari guru di sekolahnya.

Bukan cerita besar, bukan sesuatu yang dramatis.
Tapi cukup untuk membuat saya diam cukup lama.

Katanya, Mizan sekarang terlihat lebih tenang.
Lebih ceria.
Lebih nyaman berinteraksi.

Di momen itu, ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
Antara lega, terharu, dan… sedikit menyesal karena terlalu lama takut.

Saya baru sadar satu hal:
anak ternyata bisa merasakan hal-hal yang tidak kita ucapkan.

Mereka tahu ketika rumah terasa tegang.
Mereka tahu ketika suasana tidak benar-benar hangat, meskipun terlihat “utuh” dari luar.

Dan mungkin, dalam beberapa kondisi,
yang anak butuhkan bukan sekadar orang tuanya tetap bersama,
tapi lingkungan yang lebih tenang dan sehat secara emosional.

Pengalaman ini tidak berarti semua cerita akan sama.
Setiap keluarga punya kondisi yang berbeda.

Tapi setidaknya, ini mengajarkan saya bahwa
tidak semua perceraian otomatis melukai anak.

Kadang, justru dari situ,
anak bisa bernapas lebih lega.

Dan sebagai orang tua,
yang terpenting bukan mempertahankan bentuk,
tapi memastikan anak tetap tumbuh dalam rasa aman.

Selasa, 31 Maret 2026

Telepon Tengah Malam Itu: Tangis Ibu, Tenang Ayah, dan Nama Mizan



Ada satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan.
Malam ketika semuanya runtuh, tapi di saat yang sama… sesuatu dalam diri saya justru terbentuk ulang.

Saya menelepon ibu.
Saat itu saya belum sempat bercerita apa-apa. Belum menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tapi suara saya sudah pecah duluan. Tangis saya keluar tanpa bisa ditahan.

Anehya, ibu tidak bertanya.
Ibu tidak menunggu penjelasan.
Ibu langsung ikut menangis.

Di situ saya sadar, kadang seorang ibu tidak butuh cerita lengkap.
Cukup dari suara anaknya, ia tahu: ada yang sedang tidak baik-baik saja.

Tapi yang lebih saya ingat bukan hanya tangisan itu.
Yang paling membekas adalah… apa yang saya ucapkan di tengah histeris.

Saya tidak menyebut nama istri saya.
Saya tidak bertanya “kenapa ini terjadi?”
Saya tidak marah.

Yang keluar dari mulut saya hanya satu kalimat, berulang-ulang:

“Mizan anak Luzman… Mizan anak Luzman… gimana Mizan… gimana Mizan…”

Di momen itu, saya sadar sesuatu.
Saya tidak sedang menangisi pasangan.
Saya sedang takut kehilangan arah sebagai seorang ayah.

Ibu terus menangis di ujung telepon.
Lalu ayah mengambil alih.

Berbeda dengan ibu, ayah tidak ikut larut dalam tangis.
Suaranya tenang. Tegas. Seolah ingin menarik saya keluar dari kekacauan itu.

Ayah berkata:

“Mizan mah anak sholeh atuh… kan sama Luzman dari kecil juga sudah diajarin sholat. Tenang aja, Mizan anak sholeh.”

Kalimatnya sederhana.
Tapi entah kenapa, itu seperti menahan saya agar tidak jatuh lebih dalam.

Di tengah rasa hancur, ayah tidak membahas masalahnya.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Tidak memperkeruh keadaan.

Ayah justru mengingatkan saya pada satu hal yang paling penting:
hubungan saya dengan anak saya.

Bahwa di tengah kekacauan orang dewasa,
ada satu hal yang tetap harus dijaga: masa depan seorang anak.

Malam itu, saya berhenti menangis sejenak.
Bukan karena rasa sakitnya hilang.
Tapi karena saya diingatkan siapa diri saya sebenarnya.

Saya mungkin gagal sebagai suami.
Tapi saya tidak boleh gagal sebagai ayah.

Sejak malam itu, fokus saya berubah.
Saya tidak lagi sibuk mempertanyakan kenapa ini terjadi.
Saya tidak lagi mengejar sesuatu yang sudah hancur.

Saya hanya punya satu pikiran:
Mizan harus tetap baik-baik saja.

Karena pada akhirnya,
yang paling kita cintai akan selalu menunjukkan arah saat kita tersesat.

Dan bagi saya, arah itu adalah:
Mizan.



Minggu, 29 Maret 2026

Drama Rumah Sakit: Laper, Ngantuk, dan Trauma Nama Mantan



Gue kemarin punya pengalaman yang… jujur aja, antara kasihan sama diri sendiri dan pengen ketawa.

Jadi ceritanya, gue nemenin nyokap operasi tangan. Dateng pagi banget, jam 7. Dengan kondisi belum sarapan, belum siap mental, dan jujur aja… belum siap hidup juga.

Awalnya gue pikir, “Ah paling bentar.”
Ternyata… tiga jam.

Tiga jam nunggu di depan ruang operasi itu bukan sekadar nunggu. Itu udah masuk kategori retreat kehidupan. Lo duduk, bengong, mulai mikir hal-hal random, sampai akhirnya mempertanyakan semua keputusan hidup.

Dan tentu saja, karena kombinasi laper + ngantuk + suasana rumah sakit yang hening… gue ketiduran.
Di depan ruang operasi. Kelas banget.

Lalu terjadilah momen yang tidak akan saya lupakan.

Tiba-tiba ada suara perawat manggil:

“Keluarga Ibu Dea…”

Dalam kondisi setengah sadar, otak gue belum nyala penuh. Refleks gue langsung jawab:

“Eh iya.”

Padahal… gue sudah cerai.

Perawatnya mungkin agak bingung, dia nanya lagi:

“Bener keluarga Ibu Dea?”

Di titik itu, otak gue akhirnya booting. Loading…
Dan gue langsung sadar:

“Eh… bukan.”

Di dalam hati gue langsung panik:

“Lah ini mantan ngapain masuk ke skenario hidup gue lagi?”

Yang bikin makin absurd, ternyata memang nama pasiennya sama persis kayak nama mantan gue.

Dan yang lebih parah lagi… suaminya itu lama banget nyaut.

Jadi selama beberapa detik, gue ada di kondisi menggantung:

“Ini gue yang dipanggil… atau bukan… atau gimana sih hidup gue ini?”

Itu detik-detik yang aneh banget. Antara pengen kabur, pengen ngakak, sama pengen nanya ke semesta:

“Kenapa harus nama itu lagi?”

Akhirnya si suaminya nyaut juga, dan gue bisa kembali ke realita sebagai… orang yang salah respon karena lapar.

Dari situ gue jadi sadar satu hal:

Mantan itu emang bisa hilang dari hidup kita…
Tapi kadang namanya masih muncul di momen yang nggak penting.

Kayak iklan pinjol. Tiba-tiba muncul, padahal kita nggak butuh.

Untungnya perawatnya nggak lanjut ngomong:

“Pak, ikut tanda tangan persetujuan operasi ya.”

Kalau itu kejadian…
Kayaknya gue nggak cuma salah nyaut.

Gue langsung trauma level baru.


"Bau Air Mata" yang Sampai ke Jakarta: Saat Curhatan Cerai Saya Dibacakan Raditya Dika



Siapa sangka, sebuah kartu pos fisik yang ditulis dengan tangan gemetar dan hati yang remuk bisa menempuh perjalanan ribuan kilometer, hanya untuk berakhir di meja seorang Raditya Dika.

Bagi sebagian orang, mengirim kartu pos mungkin terasa kuno di era WhatsApp dan DM Instagram. Namun, bagi saya, kartu pos itu adalah satu-satunya cara untuk melepaskan beban yang selama ini menyesakkan dada. Sebuah pesan singkat tentang sebuah akhir: perceraian.

Soundtrack Luka di Atas Kertas

Dalam kartu pos tersebut, saya jujur apa adanya. Saya bercerita tentang pengkhianatan, tentang bagaimana dunia seolah berhenti berputar saat mengetahui pasangan yang saya percayai justru memilih orang lain.

Saya bahkan mengutip lirik lagu Sherina, "Pergilah Kau", yang mendadak jadi lagu tema hidup saya. “Ku tak mau lagi, aku tak mau lagi...” Lirik itu bukan sekadar kata-kata, tapi sebuah pernyataan sikap untuk mencoba pulih meski tertatih.



Respon yang Tak Terduga

Minggu (29/3), saat video terbaru Raditya Dika berjudul "Perangko Zaman Kemerdekaan" tayang, jantung saya berdegup kencang. Di menit ke-12, Bang Radit memegang kartu pos buatan saya sendiri.

"Gua baru aja cerai, istri gua selingkuh. Rasanya kayak dunia berhenti muter," baca Radit di depan jutaan penontonnya.

Ada momen satir sekaligus hangat saat Radit berseloroh bahwa kartu pos saya "bau air mata" dan ia hampir ingin mengendus aromanya—sebuah ciri khas komedi Radit yang justru membuat suasana terasa lebih ringan. Meski dia bercanda, pesan dukungannya sangat terasa: "Nanti pelan-pelan pulih."

Lebih dari Sekadar Konten

Menonton cerita pribadi saya dibacakan bukan hanya soal "masuk YouTube". Ini adalah sebuah validasi. Bahwa luka ini nyata, dan bahwa saya tidak sendirian dalam menghadapi kehancuran emosional.

Kartu pos itu kini mungkin tersimpan di PO Box 1213 Jakarta Selatan, atau mungkin sudah berpindah ke arsip pribadi seorang komedian papan atas Indonesia. Tapi bagi saya, kartu pos itu adalah bukti sejarah bahwa saya pernah hancur, saya pernah berani bercerita, dan sekarang, saya sedang dalam proses untuk bangkit kembali dengan kepala tegak.

Terima kasih, Bang Radit, sudah menjadi "telinga" bagi surat yang bau air mata ini.


Catatan Penulis: Artikel ini dibuat sebagai pengingat bahwa setiap luka punya cara unik untuk sembuh, terkadang lewat prangko dan secarik kertas.

Sabtu, 14 Februari 2026

Kolam Renang Plaza Festival: Tiket Mulai Rp10.500, Murah Banget di Tengah Jakarta



Buat kamu yang lagi cari kolam renang murah di Jakarta, kolam renang di Plaza Festival bisa jadi pilihan menarik. Lokasinya strategis dan harganya ramah di kantong, bahkan mulai Rp10.500 saja.

Kolam renang ini berada di area GOR Soemantri Brodjonegoro, yang sudah lama dikenal sebagai fasilitas olahraga publik dengan tarif terjangkau.

Jam Buka dan Tarif Tiket Masuk

Kolam renang Plaza Festival sudah buka sejak pukul 06.00 WIB. Namun, penting untuk memperhatikan jam kunjungan karena tarif tiket berbeda-beda tergantung waktu dan hari. Untuk pembayaran, hanya bisa menggunakan non tunai atau QRIS ya.

Hari Senin–Jumat

  • 06.00–08.00 WIB: Rp30.500

  • 08.00–11.00 WIB: Rp10.500 (tarif termurah)

  • 13.00–19.00 WIB: Rp30.500

Buat yang ingin hemat, datanglah hari kerja antara pukul 08.00–11.00 WIB, karena di jam inilah harga tiket paling murah.


 

Hari Sabtu

  • 08.00–11.00 WIB: Rp12.500

  • Di luar jam tersebut: Rp35.500

Hari Minggu & Libur Nasional

  • Semua jam: Rp35.500

Catatan penting, satu tiket hanya berlaku untuk satu orang, baik anak-anak maupun dewasa tetap wajib membeli tiket.

Tersedia Tiga Kolam dengan Kedalaman Berbeda

Kolam renang Plaza Festival cocok untuk semua usia, karena tersedia tiga kolam dengan kedalaman berbeda, yaitu:

  • Kolam dangkal 0,6 meter: aman untuk anak-anak

  • Kolam sedang 1,6 meter: cocok untuk remaja dan dewasa

  • Kolam dalam 2,3 meter: untuk yang sudah mahir berenang

Dengan pilihan ini, orang tua nggak perlu khawatir saat mengajak anak-anak berenang.

Ada Kantin, Bisa Jajan Setelah Renang

Nggak cuma berenang, pengunjung juga bisa jajan di area kantin. Tersedia berbagai pilihan makanan ringan seperti:

  • Indomie

  • Bakso

  • Es krim

Cukup buat isi tenaga setelah capek berenang.

Cocok untuk Olahraga Rutin dan Rekreasi Murah

Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, terutama di jam tertentu, kolam renang Plaza Festival cocok untuk:

  • Olahraga rutin sebelum atau setelah kerja

  • Rekreasi keluarga tanpa bikin dompet menjerit

  • Latihan berenang anak-anak

Kalau kamu cari kolam renang murah, lokasi strategis, dan fasilitas lengkap, tempat ini layak masuk daftar.



Entri yang Diunggulkan

Pelarian Sakti: Bagaimana Persib dan Inter Milan Menyelamatkan Waras Gue Saat Cerai

Banyak orang bilang, perceraian itu seperti kiamat kecil. Dunia yang kamu bangun bertahun-tahun runtuh dalam semalam. Pas itu terjadi sam...