Ada satu malam yang tidak akan pernah saya lupakan.
Malam ketika semuanya runtuh, tapi di saat yang sama… sesuatu dalam diri saya justru terbentuk ulang.
Saya menelepon ibu.
Saat itu saya belum sempat bercerita apa-apa. Belum menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Tapi suara saya sudah pecah duluan. Tangis saya keluar tanpa bisa ditahan.
Anehya, ibu tidak bertanya.
Ibu tidak menunggu penjelasan.
Ibu langsung ikut menangis.
Di situ saya sadar, kadang seorang ibu tidak butuh cerita lengkap.
Cukup dari suara anaknya, ia tahu: ada yang sedang tidak baik-baik saja.
Tapi yang lebih saya ingat bukan hanya tangisan itu.
Yang paling membekas adalah… apa yang saya ucapkan di tengah histeris.
Saya tidak menyebut nama istri saya.
Saya tidak bertanya “kenapa ini terjadi?”
Saya tidak marah.
Yang keluar dari mulut saya hanya satu kalimat, berulang-ulang:
“Mizan anak Luzman… Mizan anak Luzman… gimana Mizan… gimana Mizan…”
Di momen itu, saya sadar sesuatu.
Saya tidak sedang menangisi pasangan.
Saya sedang takut kehilangan arah sebagai seorang ayah.
Ibu terus menangis di ujung telepon.
Lalu ayah mengambil alih.
Berbeda dengan ibu, ayah tidak ikut larut dalam tangis.
Suaranya tenang. Tegas. Seolah ingin menarik saya keluar dari kekacauan itu.
Ayah berkata:
“Mizan mah anak sholeh atuh… kan sama Luzman dari kecil juga sudah diajarin sholat. Tenang aja, Mizan anak sholeh.”
Kalimatnya sederhana.
Tapi entah kenapa, itu seperti menahan saya agar tidak jatuh lebih dalam.
Di tengah rasa hancur, ayah tidak membahas masalahnya.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Tidak memperkeruh keadaan.
Ayah justru mengingatkan saya pada satu hal yang paling penting:
hubungan saya dengan anak saya.
Bahwa di tengah kekacauan orang dewasa,
ada satu hal yang tetap harus dijaga: masa depan seorang anak.
Malam itu, saya berhenti menangis sejenak.
Bukan karena rasa sakitnya hilang.
Tapi karena saya diingatkan siapa diri saya sebenarnya.
Saya mungkin gagal sebagai suami.
Tapi saya tidak boleh gagal sebagai ayah.
Sejak malam itu, fokus saya berubah.
Saya tidak lagi sibuk mempertanyakan kenapa ini terjadi.
Saya tidak lagi mengejar sesuatu yang sudah hancur.
Saya hanya punya satu pikiran:
Mizan harus tetap baik-baik saja.
Karena pada akhirnya,
yang paling kita cintai akan selalu menunjukkan arah saat kita tersesat.
Dan bagi saya, arah itu adalah:
Mizan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)