Siapa sangka, sebuah kartu pos fisik yang ditulis dengan tangan gemetar dan hati yang remuk bisa menempuh perjalanan ribuan kilometer, hanya untuk berakhir di meja seorang Raditya Dika.
Bagi sebagian orang, mengirim kartu pos mungkin terasa kuno di era WhatsApp dan DM Instagram. Namun, bagi saya, kartu pos itu adalah satu-satunya cara untuk melepaskan beban yang selama ini menyesakkan dada. Sebuah pesan singkat tentang sebuah akhir: perceraian.
Soundtrack Luka di Atas Kertas
Dalam kartu pos tersebut, saya jujur apa adanya. Saya bercerita tentang pengkhianatan, tentang bagaimana dunia seolah berhenti berputar saat mengetahui pasangan yang saya percayai justru memilih orang lain.
Saya bahkan mengutip lirik lagu Sherina, "Pergilah Kau", yang mendadak jadi lagu tema hidup saya. “Ku tak mau lagi, aku tak mau lagi...” Lirik itu bukan sekadar kata-kata, tapi sebuah pernyataan sikap untuk mencoba pulih meski tertatih.
Respon yang Tak Terduga
Minggu (29/3), saat video terbaru Raditya Dika berjudul "Perangko Zaman Kemerdekaan" tayang, jantung saya berdegup kencang. Di menit ke-12, Bang Radit memegang kartu pos buatan saya sendiri.
"Gua baru aja cerai, istri gua selingkuh. Rasanya kayak dunia berhenti muter," baca Radit di depan jutaan penontonnya.
Ada momen satir sekaligus hangat saat Radit berseloroh bahwa kartu pos saya "bau air mata" dan ia hampir ingin mengendus aromanya—sebuah ciri khas komedi Radit yang justru membuat suasana terasa lebih ringan. Meski dia bercanda, pesan dukungannya sangat terasa: "Nanti pelan-pelan pulih."
Lebih dari Sekadar Konten
Menonton cerita pribadi saya dibacakan bukan hanya soal "masuk YouTube". Ini adalah sebuah validasi. Bahwa luka ini nyata, dan bahwa saya tidak sendirian dalam menghadapi kehancuran emosional.
Kartu pos itu kini mungkin tersimpan di PO Box 1213 Jakarta Selatan, atau mungkin sudah berpindah ke arsip pribadi seorang komedian papan atas Indonesia. Tapi bagi saya, kartu pos itu adalah bukti sejarah bahwa saya pernah hancur, saya pernah berani bercerita, dan sekarang, saya sedang dalam proses untuk bangkit kembali dengan kepala tegak.
Terima kasih, Bang Radit, sudah menjadi "telinga" bagi surat yang bau air mata ini.
Catatan Penulis: Artikel ini dibuat sebagai pengingat bahwa setiap luka punya cara unik untuk sembuh, terkadang lewat prangko dan secarik kertas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)