Sabtu, 08 Agustus 2026

Menatap Sang Legenda Iwan Fals di Leuwinanggung: Dari Panggung Batu Bata Hingga Panggung Kita

Sejak berusia tiga tahun, suara dan petikan gitar Iwan Fals sudah menjadi "sajian wajib" sehari-hari di rumah. Semua berkat Bapak yang hobi memutar kaset-kaset Iwan Fals tanpa henti. Dari sering mendengar, lama-kelamaan aku jadi hapal luar kepala lagu-lagunya.


Bahkan, ada satu memori masa kecil yang paling kuingat: aku pernah menaiki tumpukan batu bata di halaman rumah, menjadikannya panggung mini, lalu menyanyikan lagu Bento dengan penuh percaya diri layaknya seorang penyanyi rock papan atas.

Siapa sangka, 35 tahun kemudian, mimpi kecil dari panggung batu bata itu akhirnya menemukan muaranya.

Aku berkesempatan menyaksikan langsung konser sang legenda hidup bersama pacarku, Richa Juniwardani (@richajuniwardani). Bukan di stadion megah atau hall komersial, melainkan langsung di kediaman beliau: Panggung Kita, Leuwinanggung, Depok.

Energi yang Tak Memudar di Usia 64

Iwan Fals kini sudah berusia 64 tahun. Rambutnya memang telah memutih, namun saat ia naik ke atas panggung, energinya seolah tak pernah terkikis oleh zaman. Ia menyanyikan lagu-lagu andalannya dengan artikulasi dan jiwa yang sama kuatnya seperti puluhan tahun lalu.

Satu hal yang membuat bulu kuduk berdiri adalah betapa magis dan relevannya karya-karya beliau. Lagu-lagu lawas ciptaannya tidak hanya menjadi nostalgia, tetapi tetap relate menyuarakan kondisi sosial dan kemanusiaan saat ini.

Lihat saja lirik lagu Puing II (rilis 2004) yang gaungnya masih terasa menampar:

"Tuan, tolonglah tuan perang dihentikan Lihatlah di tanah yang basah Air mata bercampur darah Bosankah telinga tuan Mendengar teriak dendam jemukah hidung tuan Mencium amis jantung korban..."

Atau lagu PHK yang dirilis jauh di tahun 1987. Ketika dilantunkan di panggung, realitanya masih sangat menempel dengan apa yang terjadi di sekeliling kita saat ini:

"Lelaki renta setengah baya Geram di trotoar jalan Saat panas tikam kepala Seorang buruh disingkirkan..."

Rumah Bagi Semua Kalangan

Sore itu di Leuwinanggung, aku melihat pemandangan yang luar biasa. Ribuan fans—tua, muda, laki-laki, perempuan—dari pelbagai latar belakang berkumpul jadi satu. Di Panggung Kita, tidak ada sekat antara kaya dan miskin. Semua orang berdiri, bernyanyi bersama, merayakan karya yang merekatkan perbedaan.

Menyaksikan konser Iwan Fals secara langsung bersama Richa di Leuwinanggung bukan sekadar datang ke sebuah pertunjukan musik. Ini adalah perjalanan menuntaskan rindu masa kecil, merayakan kemanusiaan, dan membuktikan sendiri mengapa seorang Iwan Fals akan selalu menjadi legenda di hati para penggemarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ada komentar? silakan tuliskan.. hatur nuhun
(kalo yg nggak punya blog pilih yang name/URL, URL-nya dikosongin aja, okay?)

Entri yang Diunggulkan

Menatap Sang Legenda Iwan Fals di Leuwinanggung: Dari Panggung Batu Bata Hingga Panggung Kita

Sejak berusia tiga tahun, suara dan petikan gitar Iwan Fals sudah menjadi "sajian wajib" sehari-hari di rumah. Semua berkat Bap...